Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
3 Tipe Pendidik atau Guru
Masyarakat umum kadang menilai kemuliaan guru dari besaran gaji. Kalau gajinya kecil dan miskin, dipuja puji dan dinilai ikhlas. Kalau gajinya besar dan kaya, dianggap jualan agama/ ilmu.

3 Tipe Pendidik atau Guru

Di ruang kelas yang riuh, tiga sosok pendidik berdiri dengan cahaya yang berbeda. Tiga model ini membentuk ekosistem pendidikan yang dinamis, menunjukkan bahwa mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk membentuk peradaban.

1. Al-Ajir “Strong Why” الاجير

ü Santai, mau anak tidur di kelas, mau mereka pintar atau bodoh, mau soleh atau nakal, mau anak hilang, tidak masalah yang penting transferan bulanan tidak hilang.

ü Topik pembicaraan di grup seputar Gaji, tunjangan, THR, pengangkatan PPPK, tidak pernah bahas akhlak murid.

Mereka tidak layak jadi guru, lebih halal kerja di pabrik, karena buruh pabrik lebih mulia dibanding buruh sekolah.

2. Muallim “Big Why” المعلم

ü Fokus mentransfer ilmu.

ü Misinya mencetak anak berprestasi

ü Obrolannya seputar: strategi pembelajaran, olimpiade, metode baca kitab, dll.

Mereka wajib dihormati dan digaji layak bahkan satu huruf layak dibayar 1.000 dirham (±Rp 96juta) akan tetapi sayang sekali, mereka abai pada akhlak, cuek pada moral murid, kadang tiktokan joget erotis bareng murid.

3. Murobbi “Grand Why” المربي

ü Tidak hanya ingin murid pintar tapi pikirannya adalah kesuksesan santri di dunia, dan keselamatan mereka di akhirat

ü Mengajar sambil jadi teladan

ü Pakaiannya rapi syar'i, lisannya basah dengan zikir, ibadahnya istiqomah

ü Pikirannya dipenuhi: bagaimana agar santri tidak maksiat dan istiqamah menjadi ahli taat

ü Tahajud dan puasanya diniatkan untuk santri

Pembeda dari ketiganya hanyalah niat dan tujuan. Ia ada di dalam hati. Sangat subjektif. Hanya diketahui diri sendiri dan tentunya Tuhan. Orang lain sulit membedakan.

Masyarakat umum kadang menilai kemuliaan guru dari besaran gaji. Kalau gajinya kecil dan miskin, dipuja puji dan dinilai ikhlas. Kalau gajinya besar dan kaya, dianggap jualan agama/ ilmu.

Padahal, orang model pertama, meskipun guru honorer gajinya kecil tetap saja fokus pikirannya ke tuntutan kenaikan gaji, pengangkatan ASN tanpa tes, kenaikan golongan. Orang model ketiga meskipun digaji besar, tetap saja fokus pikirannya pendidikan akhlak generasi.

Wallahu ‘alam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post