Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'Animasi LEGO' Strategi Iran yang Membuat Amerika Terjebak pada Kekalahan
Jika dulu perang ditentukan oleh siapa yang punya tank dan pesawat lebih banyak, sekarang perang juga ditentukan oleh "siapa yang lebih pandai menguasai narasi di internet."

'Animasi LEGO' Strategi Iran yang Membuat Amerika Terjebak pada Kekalahan

Pernahkah terpikir alasan mengapa setelah serangan AS-Israel ke Iran, banyak muncul video-video propaganda dari Iran yang bergaya animasi Lego dengan musik rap? Bagi sebagian orang, ini terlihat seperti propaganda yang kekanak-kanakan. Padahal, kemungkinan besar ini memang strategi komunikasi yang dilakukan dengan sangat sadar dan diriset dengan baik.

Iran tampaknya memahami satu hal penting: perang modern bukan hanya perang militer, tetapi juga perang narasi dan opini publik, terutama opini publik Amerika Serikat. Dalam sistem politik AS, tekanan publik bisa memengaruhi Kongres, media, dan akhirnya kebijakan luar negeri. Karena itu, memengaruhi opini publik AS sama pentingnya dengan menghadapi militer Amerika.

Di sinilah strategi media menjadi menarik. Data studi literasi di AS menunjukkan bahwa sekitar 54% orang dewasa di AS memiliki tingkat literasi di bawah level kelas 6 SD, dan sebagian bahkan di bawah level kelas 5 SD. Artinya, banyak orang dewasa di Amerika lebih mudah memahami informasi visual sederhana, video pendek, animasi, dan musik, dibandingkan tulisan panjang atau analisis geopolitik yang rumit. Mungkin tidak jauh beda dengan generasi muda Indonesia saat ini, mereka tidak minim literasi, tapi mereka lebih suka pada visual yang singkat.

Selain itu, berbagai survei di AS juga menunjukkan bahwa banyak warganya tidak bisa menunjukkan Iran di peta, tidak tahu perbedaan Iran, Irak, Afghanistan; tidak memahami sejarah konflik Timur Tengah; tidak memahami kebijakan luar negeri negaranya sendiri.

Karena itu, jika Iran ingin berbicara langsung kepada publik Amerika, tidak bisa berupa pidato panjang atau artikel serius, ga akan "nyampe." Akan lebih efektif jika pesan dari Iran dikemas dalam video pendek, visual sederhana, musik, humor, karakter kartun, narasi hitam-putih (siapa jahat dan siapa korban). Videonya pun mesti dalam format yang cocok untuk platform digital TikTok, X, Instagram, dan YouTube Shorts.

Mungkin, ini pula yang membuat akun-akun medsos (terutama X) kedutaan-kedutaan besar Iran di berbagai negara dunia, akhir-akhir ini lebih banyak nge-troll (ga "jaga image" ala-ala diplomat lagi). Misalnya, akun X Kedubes Iran di Zimbabwe mencuit, "Trump, please talk. We are bored" [Trump ngomong dong, kita bosen neh]. Hasilnya: 5,5 juta view, 2200 komen, 96 ribu share.

Jika dulu perang ditentukan oleh siapa yang punya tank dan pesawat lebih banyak, sekarang perang juga ditentukan oleh "siapa yang lebih pandai menguasai narasi di internet."

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post