Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Baik yang Tidak Baik
Amal baik saja tidak cukup tanpa iman karena dalam perspektif ketuhanan, persoalannya bukan hanya berbuat baik, tetapi juga mengakui siapa sumber dari semua yang digunakan untuk berbuat baik

Baik yang Tidak Baik

Ada pertanyaan yang sering muncul: bagaimana dengan orang yang tidak beriman—seperti ateis atau komunis—tetapi memiliki jiwa sosial yang tinggi, suka bersedekah, membantu orang lain, dan hidupnya penuh kebaikan? Apakah tetap masuk neraka, padahal secara sosial ia tampak begitu mulia?

Gus Baha menjawabnya dengan sebuah analogi yang sederhana, tapi sangat tepat.

Bayangkan ada seseorang yang memiliki rumah. Di dalam rumah itu ada kulkas, berisi buah-buahan, makanan, dan berbagai kebutuhan. Semua itu milik pemilik rumah tersebut.

Lalu datang orang lain, masuk ke rumah itu tanpa izin. Ia membuka kulkas, mengambil isinya, kemudian membagikan makanan itu kepada orang-orang. Ia berkata, “Silakan dimakan, silakan diambil,” seolah-olah itu miliknya.

Dari sisi orang yang menerima, tentu tindakan itu dianggap baik. Mereka mendapatkan makanan, merasa terbantu, dan mungkin memuji orang yang memberi tadi.

Namun jika dilihat dari sisi pemilik rumah, perbuatan itu jelas salah. Bahkan termasuk tindakan kriminal. Karena ia membagikan sesuatu yang bukan miliknya, tanpa izin, dan tanpa mengakui siapa pemilik sebenarnya.

Di sinilah letak penjelasannya.

Menurut Gus Baha’, seluruh yang ada di dunia ini—air, makanan, harta, dan semua fasilitas kehidupan—adalah milik Allah. Manusia hanya menggunakan, bukan memiliki secara mutlak.

Maka orang yang berbuat baik tanpa iman diibaratkan seperti orang yang tadi: ia memberi dan berderma menggunakan “barang milik Allah”, tetapi tidak mengakui Allah sebagai pemiliknya.

Secara sosial, perbuatannya bisa dinilai baik. Tetapi dalam hubungan dengan Tuhan, ada kesalahan yang sangat mendasar, yaitu tidak mengakui hak milik Sang Pencipta.

Itulah sebabnya iman menjadi pondasi utama. Karena sebelum berbicara tentang amal, yang pertama adalah pengakuan terhadap siapa pemilik segala sesuatu.

Tanpa itu, kebaikan yang dilakukan berada pada posisi yang keliru—menggunakan nikmat Allah untuk berbuat baik, namun sekaligus mengingkari Allah yang memberi nikmat tersebut.

Dari situlah dipahami bahwa amal baik saja tidak cukup tanpa iman. Karena dalam perspektif ketuhanan, persoalannya bukan hanya “berbuat baik”, tetapi juga “mengakui siapa sumber dari semua yang digunakan untuk berbuat baik itu.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post