'Dajjal' Antara Isu Identitas atau Ujian Ketelitian
Dajjal, dalam banyak percakapan, sering diperlakukan seperti label. Ia ditempelkan ke sana-sini—kepada tokoh, kepada bangsa, kepada siapa saja yang tampak mencurigakan. Seolah-olah kita sedang berlomba menemukan “siapa dia” sebelum waktunya tiba. Padahal, dalam riwayat-riwayat yang datang dari Nabi Muhammad ﷺ, Dajjal justru diperkenalkan bukan untuk dituduh, tapi untuk dikenali—kelak, ketika semua tanda telah genap.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Nabi menjelaskan Dajjal. Ia tidak menyebut nama. Tidak menunjuk orang tertentu. Yang diberikan justru potongan-potongan ciri: arah kemunculan, kondisi pengikutnya, gambaran fisiknya, hingga jenis fitnah yang dibawanya. Seperti kepingan puzzle yang tersebar. Tidak cukup satu potongan untuk memastikan gambar utuh. Harus disusun. Harus sabar. Harus utuh.
Di sini, kita sering tergelincir.
Kita mengambil satu tanda, lalu merasa sudah menemukan jawabannya. Misalnya, disebut dari timur—maka semua yang datang dari timur dicurigai. Disebut Khurasan—maka wilayah itu dibebani stigma. Disebut pengikutnya sekian—maka kelompok tertentu dituding. Padahal, satu tanda bukanlah keseluruhan. Ia hanya serpihan. Dan serpihan, jika dipaksakan menjadi kesimpulan, hanya melahirkan prasangka.
Agama, dalam hal ini, tampak sedang mengajarkan adab berpikir: jangan tergesa-gesa.
Dajjal bukan sekadar isu identitas, tapi ujian ketelitian. Ia menguji apakah kita mampu menahan diri dari kesimpulan prematur. Apakah kita bisa membedakan antara petunjuk dan tuduhan. Sebab petunjuk mengarahkan, sementara tuduhan seringkali melukai.
Lebih jauh lagi, penjelasan tentang Dajjal tampaknya bukan sekadar soal “siapa dia nanti”, tapi juga “siapa kita sekarang”. Karena sebelum Dajjal yang besar datang, sejarah mencatat banyak “dajjal kecil”: kebohongan yang dibungkus meyakinkan, kepalsuan yang tampak indah, dan kebenaran yang dikaburkan pelan-pelan. Dalam skala itu, kita sebenarnya sudah hidup di tengah potongan-potongan fitnah, hanya saja tidak kita sadari.
Maka mungkin yang lebih genting bukanlah menemukan sosok Dajjal, melainkan memastikan diri tidak mudah tertipu oleh cara kerjanya.
Sebab Dajjal, dalam makna yang paling dalam, bukan hanya tentang satu orang di akhir zaman. Ia adalah puncak dari semua tipu daya: membuat yang salah tampak benar, dan yang benar tampak meragukan. Dan anehnya, itu sering berhasil bukan karena kebohongannya kuat, tapi karena manusia terlalu cepat percaya.
Di titik ini, hadis-hadis tentang Dajjal terasa seperti latihan. Latihan untuk berpikir utuh, bukan sepotong. Latihan untuk bersabar, bukan terburu-buru. Latihan untuk waspada, tanpa menjadi paranoid.
Kita tidak diminta menjadi penebak. Kita diminta menjadi penjaga—penjaga akal, penjaga iman, dan penjaga diri dari tergelincir dalam kesimpulan yang kita buat sendiri.
Karena bisa jadi, yang paling berbahaya bukanlah Dajjal yang belum datang,
melainkan cara kita memahami tanda-tandanya yang sudah keliru sejak awal.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
