Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mencintai Tanpa Syarat, Menghormati Tanpa Buta
Bukan siapa yang kita cintai, tapi cara kita mencintai. Agar cinta tidak berubah jadi alat seleksi. Dan hormat tidak berubah jadi kebutaan.

Mencintai Tanpa Syarat, Menghormati Tanpa Buta

Ada satu kebiasaan menarik di zaman ini: orang lebih cepat menghakimi daripada memahami. Apalagi kalau yang dibicarakan adalah habaib—keturunan Rasulullah. Sedikit saja ada yang terpeleset, langsung dijadikan bahan bakar untuk menghujat. Seolah satu orang cukup untuk mewakili semuanya.

Padahal sejak awal, kita sudah diingatkan: garis keturunan tidak pernah menjadi jaminan kesalehan. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah menjanjikan bahwa semua anak cucunya akan menjadi orang saleh. Ini penting. Karena banyak orang diam-diam menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi—lalu kecewa berlebihan ketika kenyataan tidak sesuai.

Di titik ini, kita sering salah meletakkan dasar cinta.

Kita terbiasa mencintai karena alasan: karena dia alim, karena dia baik, karena dia dermawan, karena dia “pantas” dicintai. Tapi masalahnya sederhana: begitu alasan itu hilang, cintanya ikut hilang.

Maka lahirlah standar ganda.

Habaib yang alim dipuja, yang biasa saja diabaikan, yang bermasalah dihujat. Seolah-olah kita sedang menyusun kasta cinta: ada yang layak, ada yang tidak.

Padahal sabda Nabi itu justru membalik logika kita: cintai keluargaku karena cintamu kepadaku.

Artinya, cinta itu tidak berbasis performa. Ia berbasis hubungan.

Ini bukan berarti membenarkan kesalahan. Tidak. Ini hanya soal memisahkan antara cinta dan penilaian.

Kita tetap boleh—bahkan perlu—menilai mana yang pantas dijadikan teladan. Habaib yang alim dan saleh, tentu posisinya bukan sekadar dicintai, tapi juga diikuti. Mereka adalah cahaya yang menerangi jalan.

Tapi yang tidak sampai ke sana?

Ya, tetap dicintai. Tanpa harus diangkat jadi panutan.

Masalahnya, kita sering tidak sabar dengan konsep ini. Kita ingin semuanya rapi: kalau dicintai, harus sempurna; kalau tidak sempurna, tidak layak dicintai. Dunia kita terlalu hitam-putih untuk sesuatu yang sejatinya penuh gradasi.

Akhirnya, yang muncul bukan lagi cinta, tapi seleksi sosial berkedok moral.

Lebih aneh lagi, kadang yang sibuk menghujat itu merasa sedang membela agama. Padahal yang dibela bukan agama, tapi ego—yang ingin terlihat paling benar, paling bersih, paling berhak menilai.

Di situ letak ironi kita.

Kita lupa bahwa mencintai keluarga Nabi bukan karena mereka tanpa cela, tapi karena kita tidak ingin kehilangan adab kepada Rasulullah sendiri.

Dan adab itu kadang sederhana: tidak ikut-ikutan menghujat.

Bukan berarti membungkam kritik. Tapi tahu batas antara mengingatkan dan merendahkan. Antara menjaga nilai dan melampiaskan emosi.

Karena kalau semua diukur dari kesempurnaan, kita sendiri mungkin sudah tidak layak dicintai sejak lama.

Maka mungkin, yang perlu kita perbaiki bukan siapa yang kita cintai—tapi cara kita mencintai. Agar cinta tidak berubah jadi alat seleksi. Dan hormat tidak berubah jadi kebutaan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post