Murid 'Tahu Diri' Guru 'Jaga Diri'
Syekh Hamzah Yusuf, seorang da’i terkenal di Amerika menceritakan pengalamannya belajar di Syinqith Mauritania. Ia berkata: “Ketika datang pertama kali ke Mahdharah Tuwaimirat, saya membawa sejumlah uang yang saya serahkan pada Syekh Walad Fahaf selaku guru besar di Mahdharah. Ia menerima uang itu lalu meletakkannya di sebuah kotak.
Beberapa tahun berlalu. Sebelum pulang ke Amerika, saya minta izin pada Syekh Fahaf. Ia membuka kotak besi itu dan menyerahkan kembali uang yang saya berikan beberapa tahun silam. Utuh. Lalu ia berkata: “Ananda, ini uangmu, ambillah kembali… Kami tidak menerima apapun sebagai upah mengajarkan ilmu…”.
***
Alangkah indahnya kisah ini. Seorang murid yang tahu diri dan bermaksud memuliakan guru dengan apa yang ia miliki dan guru yang menjaga diri serta lebih memilih iffah daripada harta.
Ini tidak tentang halal atau haram menerima upah dari mengajarkan al-Quran. Tidak juga tentang wajib atau tidaknya seorang murid atau wali murid memberikan kompensasi terhadap jasa guru yang mengajarkan ia (atau anaknya) al-Quran dan ilmu-ilmu syariat secara umum.
Ini tentang masing-masing pihak tahu hak dan kewajiban. Murid atau walinya tahu apa kewajibannya untuk memuliakan guru. Guru pun tahu kewajibannya untuk mengajarkan ilmu dengan ikhlas.
Kalau murid (atau orang tuanya) hanya tahu hak tanpa mengerti kewajiban, tentu yang muncul hanya tuntutan dan tuntutan. Demikian juga guru yang hanya bicara hak tanpa berusaha menunaikan kewajiban secara maksimal tentu akan selalu merasa kurang dan kurang.
Ketika murid tahu diri dan guru menjaga diri, maka yang muncul adalah murid merasa berhutang budi dan akan mendoakan sang guru kapan pun dan dimana pun. Demikian juga dengan guru. Ia akan menyayangi murid secara tulus, tanpa embel apapun. Jiwanya juga terasa lapang tanpa merasa ‘diupah’ oleh murid atau orang tuanya.
Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah, Imam al-Baijuri menukil sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra:
“Manusia terbaik di muka bumi adalah para guru. Berkat mereka, agama selalu baru. Beri mereka dan jangan pekerjakan mereka (jadi orang upahan). Sesungguhnya ketika seorang guru mengajarkan seorang anak bismillahirrahmanirrahim, Allah akan tulis bara`ah (kebebasan) untuk si anak, bara`ah untuk si guru dan bara`ah untuk orang tua dari api neraka.”
(Sayangnya, Syekh Muhammad ‘Awwamah sebagai muhaqqiq kitab tidak mentakhrij hadis yang ditulis oleh Imam Baijuri ini. Ia hanya berkomentar, “Hadiss ini perlu diteliti lagi karena sinyal maudhu’-nya.”)
Semoga dunia pendidikan kita semakin baik dan menggembirakan dari waktu ke waktu, Amiin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan