'Bukan Soal Megah, Tapi Soal Berkah' Pesantren yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Ada pesantren yang berdiri tanpa baliho raksasa. Tak ada videotron. Tak ada grand launching. Bahkan kadang pagar depannya pun belum dicat. Tapi anehnya bertahan ratusan tahun. Santrinya datang sendiri. Alumni pulang sendiri. Orang-orang sowan tanpa diundang.
Sebab yang dibangun dulu bukan gedungnya. Tapi takutnya kepada Allāh.
Orang-orang lama itu membangun dengan wirid, lapar, tirakat, air mata, dan keyakinan yang sering tidak masuk akal bagi orang modern. Mereka bukan tidak paham dunia. Mereka hanya tidak mau menjadikan dunia sebagai Tuhan kedua.
Maka jangan heran kalau ada pesantren tua yang tetap hidup meski tidak punya konten kreator. Tetap ramai meski humasnya seadanya. Tetap dihormati meski pengurusnya kadang tidak pandai pencitraan. Karena sebagian bangunan memang tidak ditopang oleh proposal. Tapi oleh doa orang saleh yang belum putus.
Hari ini kita hidup di zaman yang lucu. Banyak orang mengira lembaga besar bisa dibuat seperti membuka warung franchise. Tinggal bikin logo bagus, seragam rapi, kata-kata Arab sedikit, lalu merasa sudah setara dengan pesantren yang sanad doanya menyambung puluhan generasi.
Padahal pohon tua itu akarnya bukan di tanah biasa. Yang sering tidak dipahami: lembaga yang lahir dari ketakwaan itu punya “ruh”. Ia bisa saki, bisa murka, bisa menolak orang yang tidak tulus meski orang itu merasa paling berjasa di dalamnya.
Maka di dunia pesantren ada istilah yang tidak ditemukan di buku manajemen modern: “kualat”.
Lucunya, orang yang mulai kualat biasanya tidak sadar dirinya sedang kualat. Justru merasa paling benar, paling berjasa, paling layak didengar. Nasihat dianggap serangan. Teguran dianggap ancaman. Bahkan mulai berani melakukan hal-hal yang dulu dianggap tabu sambil berkata, “Ini bagian dari perubahan zaman.”
Zaman memang berubah. Tapi tidak semua yang berubah itu kemajuan. Kadang yang berubah hanya rasa malunya.
Yang lebih menarik lagi: orang-orang saleh itu sering tidak membalas. Tidak perlu konferensi pers. Tidak perlu podcast klarifikasi berjam-jam. Cukup didiamkan saja nanti hidup yang mengajari.
Sebab ada manusia yang diberi hukuman bukan dengan dipukul, tapi dengan dibiarkan terus merasa hebat saat sedang jatuh-jatuhnya.
“Mengerikan”.
Karena merasa hebat ketika salah jauh lebih berbahaya daripada merasa hina ketika benar.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan