Rezeki Yang Tak Tampak
Kita sering mengira rezeki itu sesuatu yang bisa dihitung. Dibelanjakan. Dicatat dalam slip gaji. Diukur dari jumlah digit dalam rekening atau kepemilikan tanah dan kendaraan. Tapi Habib Umar bin Hafidz menyentil persepsi yang diam-diam keliru itu: mungkin rezekimu bukan pada harta.
Dan barangkali, memang bukan.
Rezeki bisa berupa tubuh yang tidak rewel, sendi yang lentur saat rukuk, dada yang lapang meski dunia sempit. Ia bisa datang dalam bentuk kesederhanaan yang tenang—bukan kekayaan yang gelisah.
Apa makna gaji besar jika setiap pagi jantungmu berdebar tanpa sebab? Apa makna rumah luas jika di dalamnya tak ada suara yang memanggilmu dengan kasih? Apa arti tabungan menggunung jika hatimu keropos dan enggan bersujud?
Rezeki sejati, kata Habib Umar, bisa jadi justru ketika aibmu ditutup rapat. Ketika kesalahanmu tak diumumkan di pengeras suara. Ketika Allah masih menjaga martabatmu, padahal kamu sendiri sering lupa mentaati-Nya.
Dan betapa mahalnya rezeki berupa kemudahan untuk beribadah. Untuk bisa bangun tanpa berat. Berwudhu tanpa malas. Melangkah ke masjid tanpa seribu alasan yang ditukar dengan lima menit istirahat tambahan. Merasa butuh terus menambah ilmu dengan tekun mengaji.
Kita hidup dalam dunia yang menyamakan rezeki dengan penghasilan. Maka orang miskin dianggap kurang beruntung, dan orang kaya dianggap berhasil. Tapi Habib Umar membalik arah panah itu: mungkin justru yang paling kaya adalah mereka yang tertutup aibnya, disayang keluarganya, sehat badannya, dan ringan langkahnya menuju Allah.
Rezeki bukan hanya apa yang tampak, tapi juga apa yang tak terjadi. Bukan hanya apa yang ditambah, tapi juga apa yang dijauhkan. Bisa jadi, rezekimu hari ini adalah karena tidak sakit. Tidak terpeleset. Tidak tergoda. Tidak terlambat tobat.
Dan mungkin, kita butuh belajar menyebut “Alhamdulillah” bukan hanya saat uang datang, tapi saat dosa batal, saat hati tenang, dan saat hidup tetap terasa ringan—meski dompet berat sebelah.
Sebab rezeki, bisa saja tak tercetak. Tapi terasa.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan