Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'Sayyidah Hajar' Dalam Pusaran Perjuangan dan Pengabdian
Pada titik puncak kepasrahan seorang hamba, ketika ikhtiar manusia telah habis, pertolongan langit pun turun. Sayyidah Hajar mendengar sebuah suara. Beliau menengok ke arah Ismail berada. Di sana, muncullah sosok agung, Malaikat Jibril Alaihissalam.

'Sayyidah Hajar' Dalam Pusaran Perjuangan dan Pengabdian

Dulu, ada seorang wanita agung. Namanya Sayyidah Hajar. Beliau adalah istri Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam, ibunda dari Ismail Alaihissalam.

Suatu hari, tanpa alasan yang mampu dicerna oleh akal manusia, Nabi Ibrahim membawa Sayyidah Hajar dan bayinya yang masih kecil ke sebuah tempat yang teramat jauh dari peradaban. Sebuah lembah tandus bernama Bakkah.

Bayangkan sebuah tempat di mana tidak ada satu pun rumah untuk berteduh dari terik yang membakar. Tidak ada pasar, tidak ada warung, tidak ada setetes pun air. Tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh. Jangankan manusia, hewan pun enggan melintas di sana. Tidak ada tempat duduk, tempat bersandar. Hanya ada gurun pasir dengan keheningan yang mencekam, diapit oleh bukit-bukit batu yang hitam dan gersang.

Setelah meletakkan sedikit kurma dan sekantong air yang sangat terbatas, Nabi Ibrahim membalikkan badannya. Beliau bersiap pergi, meninggalkan istri dan bayinya yang masih merah di tengah keganasan gurun itu.

"Wahai Ibrahim ! Ke mana engkau akan pergi?" teriak Sayyidah Hajar dengan suara bergetar. Lemah, bingung, dan didera rasa takut yang luar biasa sebagai seorang ibu.

"Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tiada seorang manusia pun dan tidak ada sesuatu apa pun ini?!"

Nabi Ibrahim tidak menoleh. Bukan karena tega, melainkan karena air matanya sudah tumpah, tak sanggup melihat wajah istri dan anaknya. Beliau terus melangkah, menuntun tunggangannya.

Sayyidah Hajar tidak menyerah. Sambil mendekap Ismail kecil, ia berlari mengejar suaminya. Mengulang-ulang pertanyaan yang sama dengan rintihan yang menyayat hati. Namun, sang suami tetap bungkam.

Hingga akhirnya, sebuah cahaya makrifat menyelinap ke dalam dada Sayyidah Hajar. Beliau paham, suaminya adalah seorang Nabi, tidak mungkin bertindak atas dasar amarah atau kezaliman.

Maka dengan suara yang mulai tenang namun bergetar hebat, ia bertanya: "Wahai Ibrahim, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?"

Nabi Ibrahim berhenti. Beliau menjawab, "Iya. Allah yang memerintahkan aku untuk meninggalkan kalian di sini."

Mendengar jawaban itu, runtuhlah semua ketakutan kemanusiaan Sayyidah Hajar. Berganti dengan samudra keimanan yang maha luas. Kalimat yang keluar dari bibirnya kemudian adalah salah satu kalimat paling legendaris dalam sejarah peradaban manusia.

"Kalau Allah yang memerintahkan itu... pasti Dia tidak akan pernah mengecewakan kami."

Seketika itu juga, Sayyidah Hajar berbalik arah. Ia menyeka air matanya. Tanpa marah, tanpa protes, penuh ketundukan dan tawakal yang mutlak.

Di batas bukit, di tempat di mana istri dan anaknya tidak lagi melihatnya, Nabi Ibrahim berbalik. Beliau menatap lembah sunyi itu dengan hati yang hancur sebagai seorang ayah dan suami. Beliau mengangkat kedua tangannya ke langit, meratap dengan doa yang diabadikan abadi dalam Al-Qur'an:

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ٣٧

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. (Surah Ibrahim ayat 37)

Hari-hari berlalu. Sang surya membakar tanpa ampun. Bekal air di kantong kulit itu akhirnya habis tak bersisa. Di atas pasir yang panas, Ismail kecil mulai menangis. Suaranya yang semula kencang perlahan melemah, serak, dan mulai kejang-kejang karena kehausan yang menyiksa tenggorokannya.

Naluri keibuan Hajar terkoyak. Ia tidak sanggup melihat putranya meregang nyawa di depan matanya. Ia berlari menuju bukit terdekat, Bukit Shafa. Ia berdiri di atasnya, memicingkan mata ke segala arah, mencari tanda-tanda kehidupan, mencari setitik air, atau kafilah yang mungkin melintas. Nihil. Hanya fatamorgana yang menipu mata.

Ia turun dengan panik. Ketika sampai di dasar lembah, ia berlari-lari kecil seperti seorang yang kepayahan, menuju bukit seberang, Bukit Marwah. Ia naik ke atasnya, memandang ke segala penjuru. Tetap tidak ada apa-apa.

Satu kali, dua kali, tiga kali... ia bolak-balik dalam kondisi fisik yang lemah dan hati yang hancur mendengarkan tangisan bayinya dari kejauhan. Hingga genap tujuh kali, dan ia tiba di Bukit Marwah untuk yang terakhir kalinya.

Pada titik puncak kepasrahan seorang hamba, ketika ikhtiar manusia telah habis, pertolongan langit pun turun. Sayyidah Hajar mendengar sebuah suara. Beliau menengok ke arah Ismail berada. Di sana, muncullah sosok agung, Malaikat Jibril Alaihissalam.

Malaikat Jibril kemudian menghentakkan sayapnya (dalam riwayat lain: tongkatnya, tumitnya) ke atas tanah pasir, tepat di dekat kaki Ismail kecil yang sedang menangis.

Maha Suci Allah! Dari tanah yang gersang dan membatu itu, tiba-tiba memancarlah air yang sangat jernih dan deras.

Sayyidah Hajar berlari sekencang-kencangnya. Menyaksikan air yang meluap-luap, dengan sisa-sisa tenaga dan rasa gembira yang membuncah, ia segera membendung air itu dengan tangannya seraya berkata: "Zam-zam! Zam-zam!" (Berkumpullah, berkumpullah!).

Malaikat Jibril menatap wanita suci itu lalu berkata untuk menenangkan hatinya.

"Tenanglah. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang bertawakal. Kelak, di tempat ini akan berdiri Baitullah. Dan anak ini... dialah yang kelak akan membangun fondasinya bersama ayahnya."

Sayyidah Hajar meminum air itu hingga puas. Air murni yang ajaib; yang tidak hanya menghilangkan dahaga yang mencekik, tetapi juga mengenyangkan perut yang kelaparan, serta menyembuhkan segala penyakit. Beliau kemudian menyusui kembali Ismail dengan penuh kasih sayang.

Beberapa waktu kemudian, sekelompok kafilah dari suku Jurhum melintas. Mereka terkejut melihat burung-burung terbang berputar-putar di satu titik lembah.

"Sungguh aneh," kata mereka. "Kita telah bertahun-tahun melewati lembah ini, dan kita tahu pasti di sana tidak pernah ada setetes pun air. Mengapa burung-burung itu berputar di sana?"

Mereka mengirim utusan untuk memeriksa. Alangkah terkejutnya mereka saat menemukan seorang wanita mulia sedang duduk mendekap bayinya di samping sebuah mata air yang berlimpah.

Dengan penuh rasa hormat, kafilah suku Jurhum meminta izin, "Wahai Ibu, izinkan kami singgah dan memanfaatkan air ini bersama hewan tunggangan kami."

Siti Hajar tersenyum. “Ambillah. Ini bukan milikku. Ini milik Allah, untuk siapa pun yang memerlukan.”

Sejak hari itu, air Zamzam tidak pernah berhenti mengalir. Kafilah demi kafilah datang. Ada yang singgah. Ada yang lalu. Tapi lama-kelamaan, satu tenda berdiri. Lalu dua, sepuluh, dua puluh...

Hingga akhirnya lembah mati itu berubah menjadi sebuah perkampungan yang hidup. Itulah awal mula berdirinya kota suci Makkah Al-Mukarramah.

Semuanya bermula dari seorang ibu yang tidak mau menyerah, dari tawakal yang tidak pernah padam. Berabad-abad kemudian, Allah mewajibkan umat Islam untuk menelusuri langkah-langkah Sayyidah Hajar, lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa.

Demikianlah cara Allah memuliakan hamba-Nya yang bertakwa. Seorang Wanita Shalihah bernama Sayyidah Hajar alaihissalam.

Sayyidah Hajar sama sekali tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang mencetak sejarah. Beliau hanyalah seorang ibu yang sedang berjuang demi nyawa anaknya, seorang istri yang patuh pada Rabb-nya.

Beliau tidak pernah tahu bahwa ribuan tahun kemudian, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat derajatnya dengan sangat tinggi.

Mengabadikan rasa lelahnya, air matanya, dan kepasrahannya menjadi salah satu rukun ibadah paling agung, Sa'i.

Beribu tahun kemudian, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru bumi berkumpul di tempat yang sama. Mereka diperintah oleh Allah untuk melewati bekas injakan kaki Sayyidah Hajar, seorang wanita, seorang ibu, yang dulu pernah berjuang sendirian dengan sabar dan ikhlas.

Tidak peduli apakah ia bos, juragan, direktur, atau seorang Presiden memimpin negara sekalipun

Apakah ia seorang Sultan atau Raja dengan mahkota emas,

Tidak peduli ia seorang Jenderal, Miliarder, Ulama, Kyai, atau Wali sekalipun...

Ketika mereka berhaji atau berumrah, mereka wajib harus berlari-lari kecil, kelelahan, bolak-balik sebanyak tujuh kali di antara Shafa dan Marwah, tempat dimana dulu Sayyidina Hajar menginjakkan kaki.

Itulah cara Allah membalas cinta hamba-Nya. Itulah cara Allah meninggikan derajat seorang Wanita Shalihah yang meletakkan seluruh hidup dan matinya di tangan Allah.

Jika hari ini engkau merasa sendirian di tengah "gurun" ujian hidupmu, ingatlah Sayyidah Hajar. Ketika engkau berkata, "Allah tidak akan mengecewakan kita," maka saat itu juga, seluruh penduduk langit sedang bersiap menurunkan keajaiban untukmu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post