Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Penguasa Menghibur, Dompet Rakyat Harus Bertempur
Kenaikan harga sering kali berlangsung sangat cepat. Secepat notifikasi masuk ke ponsel. Malam harga sekian, pagi sudah berbeda

Ketika Penguasa Menghibur, Dompet Rakyat Harus Bertempur

Ada banyak cara menghibur diri di negeri ini. Salah satunya adalah mendengarkan konferensi pers setelah harga BBM naik.

Rakyat biasanya mengetahui harga BBM naik dari dua sumber. Pertama, dari papan harga di SPBU. Kedua, dari jantungnya sendiri yang tiba-tiba berdegup lebih cepat saat melihat angka baru.

Yang menarik, kenaikan harga sering kali berlangsung sangat cepat. Secepat notifikasi masuk ke ponsel. Malam harga sekian, pagi sudah berbeda. Selisihnya bukan lagi ratusan yang masih bisa dianggap "uang parkir". Kadang sudah ribuan. Angka yang cukup untuk membuat pengendara motor berhenti beberapa detik, memandang langit, lalu bertanya dalam hati: "Apa aku salah lihat?"

Tetapi jangan khawatir.

Di saat rakyat sedang menghitung ulang pengeluaran bulanan, selalu ada pihak yang tampil penuh optimisme menjelaskan keadaan. Dengan suara mantap. Dengan grafik yang meyakinkan. Dengan senyum yang tetap terjaga.

Mereka menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari dinamika global.

Kalimat "dinamika global" memang luar biasa. Ia seperti mantra modern. Ketika harga naik, itu dinamika global. Ketika ekonomi sulit, itu dinamika global. Ketika rakyat mulai gelisah, kembali lagi: dinamika global.

Rakyat tentu tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi di pasar minyak dunia. Mereka hanya paham bahwa motor yang sama, rute yang sama, dan tangki yang sama, sekarang membutuhkan uang lebih banyak.

Namun rakyat Indonesia memiliki kemampuan adaptasi yang mengagumkan. Mereka segera menemukan cara menghibur diri. Ada yang mulai membandingkan harga BBM dengan harga kopi kekinian.

"Kalau sanggup beli kopi tiga puluh ribu, masa BBM naik dua ribu diributkan?"

Padahal masalahnya bukan kopi. Masalahnya adalah kopi bisa tidak dibeli. Sedangkan BBM sering kali menjadi syarat agar orang bisa bekerja dan mencari nafkah untuk membeli kopi itu sendiri.

Ada pula yang memilih jalan spiritual.

Mereka melihat angka di dispenser SPBU seperti melihat hasil ujian. Menarik napas panjang. Mengucap istighfar. Kemudian tetap mengisi karena kantor tidak menerima alasan keterlambatan dengan surat keterangan harga BBM naik.

Sebagian lagi memilih humor.

Humor adalah benteng terakhir bangsa yang sudah terlalu sering diuji.

Mereka membuat lelucon bahwa sebentar lagi foto kendaraan harus dipasang di ruang tamu karena biaya menjalankannya hampir setara biaya memeliharanya.

Mereka bercanda bahwa motor sekarang bukan alat transportasi, melainkan aset investasi yang harus dipikirkan matang setiap kali keluar rumah.

Dan pemerintah?

Pemerintah tetap menjelaskan dengan semangat yang hebat.

Memang harus begitu.

Sulit membayangkan jika pemerintah ikut panik. Bayangkan konferensi pers yang diawali kalimat: "Saudara-saudara, kami juga bingung."

Tentu itu tidak mungkin.

Maka optimisme harus terus dijaga. Grafik harus tetap ditampilkan. Penjelasan harus tetap diberikan. Narasi harus tetap rapi.

Sementara itu rakyat melakukan pekerjaan yang jauh lebih rumit: menyesuaikan kenyataan.

Karena pada akhirnya, yang paling sering menyelamatkan rakyat bukanlah pidato yang panjang, melainkan kemampuan mereka sendiri untuk bertahan.

Mereka mengurangi perjalanan yang tidak perlu. Mereka menyusun ulang anggaran. Mereka menahan keinginan membeli sesuatu. Mereka mencari tambahan penghasilan. Mereka menghibur diri dengan candaan. Dan itu semua dilakukan tanpa konferensi pers.

Mungkin di situlah letak kehebatan yang sebenarnya. Sebab ada dua jenis optimisme di negeri ini.

Optimisme yang lahir dari podium. Dan optimisme yang lahir dari dompet yang mulai menipis tetapi tetap dipaksa tersenyum.

Yang kedua biasanya lebih sunyi.

Tetapi justru itulah yang membuat negeri ini terus berjalan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post