MENYELESAIKAN PERMASALAHAN DARI AKARNYA
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari rasa cemas dan sedih (Putus asa), Aku berlindung kepada Engkau dari sifat hina dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari jiwa pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari jerat hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”
Memaknai Do’a :
Tidak ada seorangpun yang tidak menghadapi permasalahan, Apalagi suatu kelompok masyarakat yang bernama organisasi, lembaga, yayasan, perusahaan bahkan negara pasti akan menghadapi masalah yang semakin komplek. Agar kita mampu menyikapi permasalahan, baik pribadi maupun kelompok, maka kita harus mampu menyelesaikan permasalahan itu dari akarnya, sebelum terlambat.
A. PERMASALAHAN PSIKOLOGIS (Rasa cemas dan sedih)
Rasa cemas biasanya dimulai dari ketidakpuasan terhadap situasi yang terjadi dan kekhawatiran menyongsong hari esok yang tidak pasti. Krisis dan tekanan terus terjadi hingga semakin memburamkan harapan. Disisi lain rasa sedih terhadap masa lalunya terus menghantui untuk bangkit dari keterpurukannya. Akhirnya yang terjadi perasaan bersalah berkepanjangan dan kebiasaan menyalahkan pihak lain.
B. PERMASALAHAN PSIKO SOSIAL (Sifat hina dan malas))
Perasaan rendah diri adalah penyakit akut yang menjadikan seseorang atau masyarakat tidak siap bersaing, merasa tidak berdaya, dan menghibur diri dengan menikmati yang ada. Di satu sisi sifat malas untuk berubah ke arah yang lebih baik, malas menuntuk ilmu dan pengetahuan, dan malas untuk berkreasi.
C. PERMASALAHAN SOSIOANTROPOLOGIS (Jiwa pengecut dan kikir)
Seseorang yang berjiwa pengecut tidak mempunyai semangat juang dan jiwa kepahlawanan. Mereka hanya mampu membanggakan cerita masa lalu dan kesuksesan nenek moyangnya. Mereka juga enggan untuk berkorban karena merasa tidak ada kompensasi konkrit dari pengorbanannya. Tidak ada lagi konsep berbagi karena semua yang dimiliki dianggap hasil usahanya sendiri.
D. PERMASALAHAN EKONOMIS DAN POLITIS (Jeratan Hutang dan Dominasi orang lain)
Individu yang selalu cemas serta malas berpikir dan bekerja biasanya mudah mencari jalan pintas dengan memperbesar hutang. Pada hal banyak potensi yang belum dimaksimalkan untuk meningkatkan penghasilan. Dari jeratan hutang ini, cepat atau lambat semakin membuahkan ketergantungan bahkan ketundukan kepada pemberi hutang. Dan jika kita berpikir global modus hutang merupakan modus yang paling canggih yang dilakukan oleh bangsa yang kuat untuk memperdaya dan menjajah bangsa yang lemah tanpa kekuatan senjata.
Dari uraian singkat di atas, kita memahami bahwa autokritik merupakan hal yang sangat penting karena sesungguhnya mendeteksi penyakit atau permasalahan itu lebih penting dari pada mencari solusi secara parsial. Marilah bersama kita kuatkan mental dan jiwa kita dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt, sehingga muncul sikap optimis dengan bekal kreatifitas dan kolaborasi dengan semua pihak yang menginginkan hari esok lebih baik.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan