BELAJAR DARI BAPAK PARA NABI (1)
Oleh : Agus Amirudin
Senin, 31 Agustus 2020
Tagur #Menulis 30 hari (Hari Ke-8)
Nabi Ibrahim as diangkat oleh Allah Swt sebagai pemimpin, bukan hanya untuk negerinya dan kaumnya, akan tetapi untuk seluruh umat manusia. Yang harus kita ketahui dan kita pelajari sebagai umat yang beriman di negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa ini adalah sebuah proses panjang untuk mendapatkan amanat kepemimpinan. Ibrahim lahir dari keluarga dan orang tua yang biasa-biasa saja, bukan tokoh yang diperhitungkan. Bahkan orang tua dari Nabi Ibrahimyang bernama Azar adalah pembuat patung, yang mana patung-patung karyanya dijadikan Tuhan (disembah) oleh masyarakat pada waktu itu.
Ibrahim kecil mulai berpikir kritis dengan lingkungannya. Hal ini dibuktikan dengan cara Ibrahim mencari Tuhan. Siang dan malam Ibrahim berusaha mencari jawaban, siapa Tuhan yang paling berkuasa di jagat raya ini? Awalnya Ibrahim menganggap bintang sebagai Tuhan, tapi pagi harinya bintang itu meredup. Ketika siang hari Ibrahim menganggap matahari Tuhan, tapi menjelang malam, matahari juga terbenam. Akhirnya yakinlah bahwa bintang dan matahari bukanlah Tuhan yang menguasai jagat raya ini. Ibrahim baru yakin akan penguasa alam semesta ini ketika Allah Swt menghidupkan dan menyatukan potongan-potongan burung yang telah di pisah-pisah tempatnya.
Ibrahim di masa mudanya juga sebagai pendobrak kritis terhadap anggapan kebenaran mutlak nenek moyangnya yang didukung penguasa otoriter Namrud. Ketika berhala-berhala sesembahan Namrud dan masyarakat umumnya pada waktu itu hancur, maka Ibrahim yang pantas dicurigai. Akan tetapi pernyataan Ibrahim sangat rasional, “Tanyakan saja pada berhala yang paling besar yang sedang berkalung kapak”. Merekapun langsung sepakat menolak logika itu, jangankan menghancurkan berhala-berhala yang lain, gerakpun tidak bisa. Tapi buktinya patung terbesar itu selamat dan tidak hancur seperti yang lainnya? Secara akal Raja Namrud dan pengikutnya mengakui kebenaran yang disampaikan Ibrahim. Tapi ketika akal kalah maka kekuasaan yang berbicara. Diskusipun harus berakhir dengan kekuasaan otoriter yang berujung pada hukuman mati untuk penantang kemapanan.
Allah Swt, Tuhan yang maha kuasa menyelamatkan dengan caranya. Api yang pada ukuran normal bisa membakar apapun termasuk tubuh Ibrahim, ternyata api itu tunduk pada Tuhan, sehingga Ibrahim sama sekali tidak merasakan panasnya api. Apa yang terjadi setelah Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api???
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan