BELAJAR DARI BAPAK PARA NABI (2)
Oleh : Agus Amirudin
Selasa, 1 September 2020
Tagur #Menulis 30 hari (Hari Ke-9)
Apa yang terjadi setelah Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api? Raja Namrud semakin geram, sehingga gerak Nabi Ibrahim semakin terbatas karena diawasi oleh aparat kerajaan tapi juga ada sebagian masyarakat yang beriman dengan apa yang disampaikan Nabi Ibrahim. Akhirnya Nabi Ibrahim hijrah ke negeri Syam dan menikah dengan Sarah.
Sekian lama Nabi Ibrahim menikah dengan Sarah tapi belum dikaruniai keturunan, akhirnya atas permintaan Sarah menikah lagi dengan Hajar. Dan dari Hajar inilah kemudian dilahirkan Isma’il. Setelah melahirkan dibawalah Hajar dan Isma’il ke tempat yang sangat gersang dan terjadilah dialog yang sangat mendalam antara Nabi Ibrahim dan Hajar. “Wahai suamiku, apakah engkau akan meninggalkan kami di tanah yang sangat gersang ini?” Tanya Hajar ketika Nabi Ibrahim naik unta bersiap meninggalkannya. Nabi Ibrahim hanya terdiam. Sampai pertanyaan yang senada diulang tiga kali oleh Hajar. “Wahai suamiku, apakah ini perintah dari Allah Swt?” Akhirnya Ibrahim menoleh dan memberi jawaban, “Ya, ini perintah Allah Swt”. Lega sudah Hajar setelah mendapat jawaban ini, dan yakin bahwa Allah Swt tidak akan menyia-nyiakannya.
Di tempat yang gersang inilah kemudian muncul banyak keistimewaan, yang sampai saat ini menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam sebagai rukun Islam yang ke-5 yakni ibadah haji.
Setelah cukup lama meninggalkan Hajar dan Ismail di tanah tandus, akhirnya Nabi Ibrahim datang lagi ke tempat itu. Banyak perubahan yang terjadi. Yang dulu tandus, sekarang sudah subur dan juga tidak sedikit yang mendiami tempat yang bernama Mekah itu. Isma’il tumbuh menjadi remaja yang sehat dan takwa kepada Allah Swt.
Baru beberapa hari Nabi Ibrahim tinggal bersama Hajar dan Isma’il, turunlah perintah Allah Swt agar Ibrahim menyembelih anaknya. Setelah dialog yang indah, terjadilah prosesi pengurbanan yang luar biasa itu. Ketaatan Ibrahim, bertemu dengan keikhlasan Ismail.
Dari proses perjuangan Nabi Ibrahim yang panjang inilah, maka Allah Swt mengangkat Ibrahim sebagai pemimpin bagi umat manusia. Tapi ternyata Nabi Ibrahim merasa tidak cukup jika hanya dirinya yang diangkat pemimpin, maka beliau mohon kepada Allah Swt agar anak keturunannya juga diberi anugerah kepemimpinan. Allah Swt maha bijaksana, sehingga mengabulkan permohonan kekasihnya tapi kepemimpinan tidak diberikan kepada keturunan Nabi Ibrahim yang melampaui batas.
Pelajaran yang bisa diambil:
1. Pemimpin tidak harus lahir dari pemimpin, pemimpin bisa lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja
2. Seorang anak tidak harus mengikuti jejak orang tuanya, jika orang tuanya tidak benar, tapi tetap menghormati dan memperlakukan dengan baik
3. Pemimpin itu harus mempunyai obsesi yang tinggi, bukan hanya kerja keras tapi juga kerja cerdas
4. Pertolongan Allah Swt pasti akan diberikan kepada hamba-Nya yang beriman dan memperjuangkan kebenaran.
5. Rujukan (QS,2:124, 6:74, 19:41; 36:81, 37:95-96, 2:258, 29:24)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan