Agus Amirudin

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

GURUNYA PAK GURU HEBAT

Oleh : Agus Amirudin

Sabtu, 19 September 2020

Tagur #Menulis 30 hari (Hari Ke-27)

Pak Ali guru yang hebat. Bertugas di sekolah manapun prestasi selalu mengikutinya. Ketika guru-guru yang lain menghadapi kesulitan selalu menjadi rujukan untuk menyelesaikannya. Tahun pelajaran baru ini Pak Ali mendapat tugas mengajar kelas 5, kelas yang menjadi tumpuan prestasi di sekolahnya. Guru kelas 4 memberikan catatan bahwa siswa bernama Dani dinaikkan ke kelas 5 meskipun kondisinya kurang layak, karena sudah dua tahun di kelas 4 dan usianya juga sudah lebih tua dari yang lain. “Semoga di kelas 5, Dani bisa sukses bersama sebagaimana prinsip Pak Ali”, kata guru kelas 4. Secara umum semua guru tahu bahwa Dani dari keluarga miskin, nakal, dan kemampuannya di bawah standar. Ini tantangan untuk menunjukkan eksistensiku sebagai guru berprestasi, batin Pak Ali.

Hampir setengah semester jurus-jurus Pak Ali dikerahkan untuk menghadapi seluruh siswa kelas 5. Tidak sia-sia, karena siswa-siswanya begitu antusias dengan sistem pembelajaran yang dikawal Pak Ali. Sayangnya, hal itu tidak terjadi pada Dani. Pada suatu hari, karena ketika pembelajaran Dani mengganggu temannya dihukumlah dengan pukulan memakai penggaris kayu. Entah karena akumulasi kekecewaan atau syetan yang merasuki Pak Ali, pukulannya mengakibatkan penggaris itu patah dan ada bekas memerah di kaki Dani. “Astaghfirulloh….ma’af Dani ya, pukulan Bapak terlalu keras”, Kata Pak Ali. “Ndak apa-apa Pak, Dani yang salah”, Jawab Dani dengan tenang.

Setelah kejadian pemukulan itu, hari berikutnya Dani tidak masuk karena sakit. Sampai hari ketiga, Pak Ali mengajak dua siswa untuk menjenguk Dani. Sesampai di rumah Dani, betapa terkejut dan mengelus dada Pak Ali, menyaksikan Dani di pangkuan bapak dan ibunya dengan begitu mesranya, sementara kondisi rumahnya lebih tepat disebut gubuk. Setelah Pak Ali dan dua siswa teman Dani disilahkan duduk di kursi reot, bapak dan ibunya Dani menyambut dengan begitu ramah. Pak Guru, mohon maaf jika Dani di sekolah nakal dan sering merepotkan. Tapi…saya sungguh bersyukur, Tuhan menitipkan anak seperti Dani. Biarlah Dani tidak pintar, tapi tetap bermanfaat sesuai dengan kondisinya. Saya yakin, Dani pasti yang terbaik. Bukankah kalau kita menerima amanah, harus menjaga amanah itu? Masalah pintar atau bodoh bukan yang utama, tapi akhlak yang lebih saya utamakan. Pak Ali tidak bisa berkata sepatah katapun mendengarkan pesan bapaknya Dani, kecuali air mata yang bercucuran sebagai bahasa hatinya. Pak Ali membatin, hari ini aku berguru kepada buruh bangunan Bapaknya Dani. Andai Dani aku ajar dan menjadi pintar, aku akan jadi guru yang sombong….

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post