Agus Amirudin

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

TANGISAN GURU BARU

Oleh : Agus Amirudin

Selasa, 15 September 2020

Tagur #Menulis 30 hari (Hari Ke-23)

Baru sebulan, Pak Ali bertugas sebagai pegawai negeri di pelosok desa Kabupaten Sampang Madura. Semangat baru nampak pada wajah dan langkahnya. Meski ada kendala bahasa, tapi tidak menjadi masalah yang berarti. Seperti biasa, ketika masih menjadi guru swasta di Surabaya sebelum PNS, semua teman guru yang ada diajak bersalaman dan berkenalan. Agak dingin dan hambar ketika perkenalan awal, tak dipedulikan. Demikian juga ketika masuk kelas, kenakalan siswa diantara bau amis dan keringat juga dianggap biasa. Bahkan Pak Ali semakin bersemangat menghadapi tantangan.

“Pak Ali…,ini Sampang, ini Madura, bukan Surabaya” kata Pak Toni ketika saya dipanggil ke ruangannya. “Iya Bapak, saya paham” jawab Pak Ali, memangnya ada apa ya Bapak memanggil saya? Begini.. (Pak Toni, sambil menyulut rokoknya sambil menghela napas panjang) Bapak akan cerita, sebagai sesama saudara dari Jawa. Lebih lima belas tahun, Bapak ada di Sampang, sudah paham dan mempunyai kesimpulan agar Pak Ali sebagai adik saya tidak konyol di daerah orang. Pak Ali manggut-manggut tapi belum mengerti…. “Mohon Pak Toni, saya takut salah.., lebih lugas saja”. Pak Toni berdiri, dan sangat nampak wajah seriusnya. Karena Bapak sudah tahu data dan latar belakang Pak Ali, maka jangan sampai berulah di tempat baru ini. Tanggalkan idealisme Pak Ali, ikuti kebiasaan yang ada di tempat ini, ndak usah sok jadi pahlawan…... Seakan sambaran petir menghantam dan Pak Ali hanya bertahan dengan diam membisu sambil mengingat aktifitasnya ketika masih di kampus dulu. Jiwa berontaknya ditahan, hingga yang keluar gumpalan air mata…… Dalam kondisi seperti itu, Pak Toni menambahkan pesan dengan Bahasa Jawa “wis nangiso le, ndak opo-opo. Lek sampeyan iso mbuktekno kekarepanmu setahun wae, potongen kupingku” (Sudah menangislah ndak apa-apa, kalau kamu bisa membuktikan idealismu satu tahun saja, potonglah telinga saya)

Saat ini, 25 tahun sudah Pak Ali mengabdi menjadi guru di Pulau Garam ini. Memang berat mengahadapi tantangan yang ada, tapi ternyata bisa. Salah satu bentuk pelarian teman-teman Pak Ali yang paling banyak terjadi adalah mutasi ke daerah asal. Jiwa kepahlawanan Pak Ali semakin teruji. Niat sucinya tidak terpengaruh godaan-godaan yang kelihatannya memberikan kemudahan tapi meracuni generasi penerus negeri ini. Dan bapak ibu guru yang mempunyai idealisme untuk membangun Sampang khususnya di bidang pendidikan juga semakin banyak. Seleksi alam terus terjadi. Intan permata tetap akan bersinar di antara kotoran. Disamping sebagai guru PNS, Pak Ali justru bisa mendirikan lembaga pendidikan yang semakin diperhitungkan. Sementara Pak Toni diangkat menjadi Pembina di lembaga pendidikan milik Pak Ali dengan satu prinsip Pak Ali tidak akan memotong telinga Pak Toni…………

========================================

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post