SISI LAIN PADA UJI COBA PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS (2)
ISU SUNTIKAN CORONA
Letjen TNI Doni Monardo (Ketua satgas penanganan covid-19) menyatakan: ” Masih ada 17% masyarakat Indonesia yang belum percaya dan merasa yakin tidak akan terkena covid-19”. Jika jumlah penduduk Indonesia saat ini 270 juta, berarti 44,9 juta penduduk Indonesia tidak percaya akan bahaya Covid-19 ini. Dari pernyataan di atas, penulis awalnya yakin dengan banyak melihat dan mendengar dari sekitar sekolah penulis, bahwa pelaksanaan uji coba dengan segala kegiatannya akan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, ternyata ada sisi lain yang layak kita cermati bersama.
Salah satu kegiatan rutin di semua satuan pendidikan adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Masyarakat pada umumnya lebih familiar dengan kalimat “suntikan”. Seperti biasa pada Bulan September 2020 ini, dari pihak Puskesmas setempat segera memberikan informasi tentang kegiatan ini, baik lewat whatsapp maupun surat resmi, yang dihubungkan oleh Ibu Rika bidan desa Banyukapah.
Pada prinsipnya UPTD SDN Banyukapah 1 mendukung semua kegiatan terkait BIAS ini, dan hal ini sudah terbukti dengan kegiatan BIAS selama ini, sukses 100%. Tapi karena saat ini masa pandemi Covid-19, maka pihak sekolah tidak ingin mengambil resiko jika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Ada beberapa pesan dari wali murid sejak awal masa uji coba pembelajaran tatap muka terbatas, agar anaknya tidak disuntik.
Pada saat tim dari Puskesmas Kedungdung datang ke sekolah untuk memberikan penyuluhan dan pemeriksaan gigi sekaligus memberikan bantuan sikat gigi dan pasta gigi, dari pihak sekolah menerima dengan tangan terbuka. Tapi ketika akan dilaksanakan imunisasi, pihak sekolah belum berani mempersilahkan. Akhirnya diambil kesepakatan, bahwa pihak sekolah akan mengedarkan surat pernyataan orang tua yang berisi mengijinkan atau tidak mengijinkan anaknya diimunisasi saat ini.
Untuk menghindari kesalahpahaman, sekolah mengutus guru dan tenaga kependidikan untuk mengedarkan surat pernyataan itu. Dari hasil pengumpulan surat pernyataan itu hasilnya sungguh mengagetkan. 100% orang tua tidak mengijinkan anaknya diimunisasi saat ini. Alasannya cukup beragam, tapi yang paling menonjol tidak ingin anaknya disuntik corona saat ini. Meski demikian banyak pernyataan dari wali murid, jika program imunisasi ini diwajibkan pihak sekolah mereka tetap akan menerimanya. Tapi untuk saat pandemi ini, pihak sekolah telah mengambil keputusan, wali muridlah yang mengambil keputusan.
Demikianlah kenyataan di masyarakat menghadapi Covid-19, banyak di antara mereka tidak percaya adanya penyakit ini, bahkan khawatir dan curiga jika keluarganya dijadikan sasaran untuk diberi virus corona. Mohon ma’af Bu Rika dan tim dari Puskesmas Kedungdung, kami tidak berani memaksa wali murid, semoga ke depan jalinan kerja sama ini tetap berlanjut….
Oleh : Agus Amirudin
Ahad, 18 Oktober 2020
Tagur #Menulis 60 hari (Hari Ke-56)
============================================
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan