MENCINTAI DIRI SENDIRI
Bolehkah mencintai diri sendiri? Boleh bahkan wajib, tapi tidak boleh berlebihan. Mencintai diri sendiri ini memang tipis batasnya antara yang benar dan yang salah, antara yang berlebihan dan yang kekurangan. Karena itu, pada catatan ringan kali ini penulis ingin berbagi 3 alasan pentingnya mencintai diri sendiri sesuai perspektif Islam.
1. Mencintai diri sendiri akan melahirkan sikap optimis. Seseorang yang optimis untuk mencapai harapannya setinggi langit harus sadar bahwa dirinya tetap di bumi. Jadi sikap optimisnya didasarkan pada tahu diri sehingga tidak mengakibatkan sikap jumawa dan berbangga diri. Nabi Yusuf As patut menjadi contoh, ketika negerinya sedang mengalami paceklik, sementara beliau mampu dan mempunyai strategi untuk mengatasinya. Pada kondisi seperti itu Nabi Yusuf dengan gagahnya menyampaikan bahwa dirinya mempunyai kompetensi dan berintegritas sehingga layak untuk menjadi menteri keuangan pada sang Raja pada waktu itu. (QS Yusuf:55)
2. Mencintai diri sendiri menjadi alat ukur yang tepat untuk memperlakukan orang lain. jika standar kepribadian muslim (Syakhsyiyah Islamiyah) sudah menyatu pada setiap muslim akan terjadi perimbangan yang indah. Ma’af, yang banyak dan umum itu seorang muslim tapi kepribadiannya gado-gado. Sholat dan puasanya standar muslim tapi cara bekerja dan gaya hidupnya tidak jelas,….lha yang seperti ini perlu catatan besar.
Rasulullah Saw bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang, jika dia tidak mampu mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. Jika kamu tidak mau dicubit, hendaknya tidak mencubit orang lain. Jika kamu senang dihormati orang lain, hendaknya kamu juga menghormati orang lain. Bagi guru yang sekaligus juga orang tua, jika anak Bapak/Ibu ingin diperlakukan dan diajar dengan baik oleh gurunya, maka jadilah guru yang sebaik mungkin memperlakukan peserta didik.
3. Mencintai diri sendiri menyebabkan kebiasaan melakukan hal yang baik dengan cara yang baik. Contoh, Orang yang bersedekah, berarti telah melakukan kebaikan yang berdimensi spiritual (mengharap pahala) sekaligus dimensi sosial (berbagi dengan orang lain yang berhak). QS Al Baqarah: 195
Demikianlah hidup dengan mencintai diri sendiri menjadi indah karena ada porsi yang tepat, bukan menjadi narsis. Semoga bermanfaat.
Oleh : Agus Amirudin
Ahad, 15 November 2020
#Tagur Menulis Ke-84#
============================================
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan