KEPANDAIAN DAN KESUKSESAN
Brodin kecil bukanlah anak yang beruntung. Ekonomi orang tuanya di bawah standar, penghasilannya sebagai buruh tani sekedar cukup untuk dimakan sehari-hari. Kepandaian Brodin juga hanya kelas menengah, tidak pandai tapi juga tidak termasuk yang bodoh. Satu kelebihan Brodin, bisa bergaul dengan semua teman. Salah satu teman istimewanya adalah Badi, si bintang kelas yang membuat iri banyak temannya di SD waktu itu.
Setelah tamat SD, garis takdir memisahkan pertemanan Brodin dan Badi. Badi diajak merantau orang tuanya ke ibu kota, sedangkan Brodin tetap bersekolah di desanya.
Dua puluh tahun berpisah tidak membuat lupa Brodin kepada Badi. Brodin yang berprofesi sebagai guru, akan berlibur ke Jakarta. Dari alamat yang didapat dari tetangganya, Brodin membayangkan tentang Badi yang sukses karena kepandaiannya. Sesampainya pada alamat yang dituju, Brodin mendapati penjual sate yang fisiknya kumal dan tampak lebih tua dari umurnya. “Benarkah kau Badi?” teriak Brodin kepada sosok yang ada di depannya. “Ya, aku Badi” jawabnya datar. Ternyata kepandaian bukan jaminan kesuksesan, guman Brodin dalam hatinya sambil mengusap air mata yang tiba-tiba berjatuhan di pipinya.
Oleh : Agus Amirudin
Senin, 15 Maret 2021
#Tagur Menulis Ke-204#
===================================
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan