Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Banjir Mengamuk di Awal Tahun

Banjir Mengamuk di Awal Tahun

#Tantangan Menulis Gurusiana Hari Ke-3 menuju 365

Aku duduk sendiri di teras lantai atas sambil memandang langit. Tak ada awan gelap di sana. Langit cerah, hanya terlihat awan tipis. Sambil sesekali membalas chat di WAG. Tak terdengar suara terompet. Hanya beberapa kembang api yang terlihat mewarnai langit malam. Ku lihat jam digital di gawai sudah pukul 23.21. Itu artinya masih ada 39 menit lagi tahun 2020 akan berganti 2021. Kembali aku menatap ke langit, masih sama cerah. Kutatap lama sambil mulutku berdoa semoga awan tidak berubah menjadi tebal dan gelap. Hanya sedikit awan hitam di langit sebelah utara, tapi di langit sebelah selatan tidak terlihat awan gelap. langit selatan terlihat cerah. Hatiku menjadi tenang. Kalaupun turun hujan aku percaya Jakarta masih aman. Sebaliknya, bila Bogor turun hujan lebat, aku khawatir Jakarta akan mendapat kiriman air yang cukup banyak. Bisa jadi jakarta akan mengalami banjir seperti tahun lalu.

Aku masih ingat awal pergantian tahun 2019 ke 2020. Belum habis masyarakat Jakarta merayakan kegembiraan terjadi banjir melanda beberapa wilayah Jakarta. Belum hilang bunyi terompet di sudut-sudt kota, belum lenyap suara kembang api menggetarkan langit Jakarta aku dikejutkan oleh berita banjir melanda sekolahku. Pak Miran dan Pak Tarsono yang bertugas malam itu mengirimkan foto-foto dan video kondisi sekolah melalui whatsapp group.

Suasan terlihat gelap. Listrik padam. Dari sisi timur sekolah air melaju sangat deras menerjang tembok pembatas. ia mengamuk. Ia menerobos celah-celah mencari sasaran kemarahannya. Air memporak-porandakan apa yang ia temui. Ia jungkir balikkan apapun yang ada. Ia terjang. Tak terpikir akibat ulahnya.

Dinding sebelah barat ia tabrak tanpa ampun. Ia luluh lantakan semua yang menghalanginya. Seakan belum puas, ia mengamuk di ruang perpustakaan. ia porak-porandakan lemari dan rak buku. Ia hancurkan buku-buku tanpa merasa berdosa. Tak ada rasa belas kasihan. Tak ingat para siswa menggantungkan harapan untuk masa depannya. Mata hatinya sudah sirna. Yang ada luapan kemarahan. Entah kepada siapa ia marah. Entah kepada siapa ia menuntut. Entah untuk apa ia menunjukkan kekuatannya.

Tepat pergantian tahun 2020 yang lalu, engkau telah menunjukan kemurkaan tanpa aku tahu alasanmu. mengapa engkau tega melakukan itu. Engkau hancurkan harapanku. Engkau luluh lantakan impianku. Di saat suara terompet dan warna-warni kembang api menghiasi langit Jakarta, kau telah hancurkan sekolahku

Jarum jam makin mendekati angka 12 malam. Ingatanku tak kan pernah sirna akan tingkah lakumu 12 bulan yang lalu. Pada saat semua orang merayakan kebahagiaan, kutundukan hati. Kuangkat kedua tangnku seraya memohon ya Allah jangan Engkau datangkan banjir lagi di sekolahku. Sayup-sayup bunyi terompet terdengar dari ujung kota dan kembang api menghiasi langit kota. Ini pertanda telah berganti tahun 2020 menjadi 2021.

Bogor, 3 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post