Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bayangan Rasa Takut

Bayangan Rasa Takut

#TGS Hari ke 5

“Ayah, jangan tidur kemalaman, besok kan jadi ke Prembun. Berangkat habis subuh Yah,”ujar istriku.

“Siap bunda,” jawabku.

“Awas loh, jangan sampai kita ketinggalan dengan Wuwuh sama Mas Jono,” ancam istriku.

Ya kami sudah janjian berangkat dari rumah kalau bisa sebelum subuh. Nanti ketemuan di SBPU setelah exit tol Pejagan. Sengaja kami berangkat pagi untuk menghindari pemeriksaan rapid test antigen di rest area. Terus terang aku sendiri merasa ngeri lihat di layar televisi hidung ditusuk-tusuk seakan diurek-urek. Aku sudah bisa membayangkan gimana rasanya hidung yang diurek-urek.

Kuperhatikan istri dan anak perempuanku sibuk packing. Aku biarkan mereka menyiapkan keperluan buat di perjalanan. Aku sendiri sudah di tempat tidur tapi rasanya mata sulit dipejamkan. Entah berapa lama harus memaksa mata terpejam, tahu-tahu jam 03.00 aku bangun mendengar kesibukan di dapur. Istriku sudah selesai masak. kapan dia tidur pikirku.

“Yah, sudah dimasukkan semua ke bagasi,”tanya istriku.

“Coba cek ada yang ketinggalan ga, biasanya ayah suka lupa, kacamata, hp, masker , “ lanjutnya.

Istriku memang selalu mengingatkan kalau urusan begini. Aku menyadari sering lupa.

“Sudah ga ada yang ketinggalan,” sekali lagi istriku mengingatkan.

Aku melaju pelan menyusuri jalan kompleks. Di pintu gerbang kulihat pak satpam sudah siaga. Pak Sugiono dan Mang Aceng yang bertugas malam ini. Pak Sugiono poster tubuhnya tinggi berkumis sedangkan Mang Aceng posturnya sedang. Wajahnya bersih tidak ada kumis. Orangnya cenderung pendiam.

“Pagi, Pak!” sapaku kepada pak satpam yang bertugas malam itu.

“Ke mana Pak, pagi-pagi sudah jalan” tanya Pak Sugiono.

“Pulkam, Pak,” kataku.

“Hati-hati Pak, di jalan, sudah rapid tes antigen kan Pak,”kata dia.

Aku kaget juga. Pak satpam ternyata mengingatkan kami harus rapid tes antigen sebelum melakukan perjalanan ke luar kota. Gimana kalau di jalan ada pemeriksaan. Deg, aku mulai berdebar-debar.

Bunda, gimana nih, aku minta pertimbangan istri.

“Tenang aja, kita kan ga masuk rest area di tol. Nanti ayah jangan masuk di rest area. Terus aja sampai exit tol Pejagan , “kata istri. "Ya,"kataku sambil pelan-pelan kupanjatkan doa jangan sampai ada pemeriksaan di perjalanan.

Bogor, 5 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post