Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
GURAU SENJA DALAM PENTIGRAF HUMOR

GURAU SENJA DALAM PENTIGRAF HUMOR

Gurau Senja dalam Pentigraf Humor

Judul Buku      :  Meneroka Rindu yang Parau Senja Itu

                   (Kumpulan Pentigraf Humor)

Penulis          :  Eko Prasetyo

Penerbit          :  CV Pustaka Media Guru 

Cetakan  :  I, Desember 2020

Tebal          :  iv + 42 hlm, 14.8 x 21 cm

ISBN          :  978-**(censored)**

 

Cerpen tiga paragraf atau pentigraf sebagai sebuah genre baru dalam sastra modern Indonesia mulai diminati  kalangan  penulis. Salah satunya adalah karya kumpulan pentigraf yang ditulis Eko Prasetyo. Sebagai seorang Pemred Media Guru, Eko Prasetyo sudah menghasilkan banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku fiksinya kumpulan cerpen,  Ndoro, Saya Ingin Bicara (2014), kumpulan puisi Gugat (2014). 

Kumpulan pentigraf ini menceritakan tokoh B-Joe dan Zsa-zsa yang cukup unik . Tema yang ditampilkan dalam pentigraf ini memotret kehidupan secara kritis. Namun, terkadang absurd tanpa kehilangan aroma humorisnya. Justru keabsurdan inilah yang membuat pentigraf ini sangat menarik.

Lihatlah, bagaimana tokoh B-Joe  dalam Jika Terlalu Letih , saking lelahnya dia mengirim pesan yang nyasar kepada ketua RT. “Sebab, jika terlalu capek, konsentrasi bisa hilang. Inilah yang dialami B-Joe.” (hlm 1). Potret kehudupan yang kritis ditampilkan dengan apik pada Peduli Korona. Bagaimana tokoh B-Joe menyelesaikan persoalan kebahasaan yang menimbulkan ambigu. Kesan humoris terlihat nyata dalam Sinis. Sinis adalah orang yang mengendarai kereta, ...jawaban itu ngawur. (hlm. 5). 

Eko masih bermain dengan humorisnya tatkala ia menampilkan B-Joe yang menangis setelah menyelesaikan buku ke 86. Bukan karena bangga melainkan ia mendapat kabar kambingnya hilang bersama kandangnya (Balada Seorang Penulis). Terkadang penulis menampilkan cerita yang menggelikan Romansa Segelas Kopi. Mengapa Zsa-zsa menangis setelah mendapatkan kalimat  romantis dari B-Joe. Ternyata B-Joe memberikan kalimat tersebut dalam bahasa Inggris yang tidak dipahami Zsa-zsa, Kecupan Terakhir (hlm 29). 

Kumpulan pentigraf ini kelihatannya  humoris, tapi kalau kita cermati penulis benar-benar memotret kehidupan nyata. Namun, diolah dengan humoris sehingga pembaca merasa terlena. Di balik humoris ,   sebenarnya penulis ingin menyampaikan pesan bahwa sesuatu yang serius tidak selamanya ditanggapi dengan serius. Adakalanya unsur humoris dapat menyelesaikan masalah tanpa menggurui. Inilah kelebihan yang ingin ditunjukkan penulis dalam Meneroka Rindu yang Parau Senja Itu. Membaca judul buku ini saja orang akan dibuat menerka-nerka. Meneroka artinya membuka daerah, merintis, atau menjelajahi. Pilihan kata yang tak lazim ini telah menunjukan kepiawian penulis dalam menguasai kosa kata.

Membaca buku ini Anda akan mampu menyelesaikan konfliks dengan ringan dibumbui selera humor yang tinggi. Buku ini sangat cocok bagi orang yang ingin menemukan suasana nyaman di tengah riuhnya pandemi covid 19.  Melepas risau di waktu senja.

#TGS Hari ke-30

Bogor, 30 Januari 2021

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post