Laki-laki di Tengah Malam
Laki-laki di Tengah Malam
Akhmad Ubedi
#Tantangan Gurusiana, Hari ke-12 menuju 365
Hujan turun sejak sore hingga malam masih belum reda. Suara belentung terdengar menemani sepinya malam. Belentung atau blentung adalah nama sejenis kodok kecil yang bersuara nyaring. Suaranya nyaring dan keras tung kek, tung kek. Suara itu menggantikan suara jangkrik di musim hujan. Blentung akan muncul pada saat musim hujan. Dia menyukai blumbang (empang atau kolam) sebagai habitat hidupnya.
Malam itu suara blentung bersahut-sahutan dengan irama dan melodi yang merdu. Irama dan melodinya menambah suasana malam semakin nyaman berada di rumah. Namun, suasana nyaman itu bukan untuk seorang suami muda. Dia merasa gelisah. Dia tidak tenang di tengah sepinya malam. Dia makin panik mendengar rintihan istrinya. Dia bingung apa yang harus dilakukan. Dia mencoba menenangkan istrinya, tapi tak berhasil. Bahkan rintihan istrinya membuat semakin bingung. Di luar hujan belum reda. Ia masih belum puas menumpahkan air walaupun tanah sudah becek. Rasanya hujan tak mau berhenti sebelum pagi datang. Seakan ingin menunjukan kepada manusia bahwa ia mampu menumpahkan air berapa pun banyaknya. Ia ingin memberikan kesempatan kepada belentung untuk konser malam. Suaranya tak berkurang merdunya sampai menjelang tengah malam. Sementara seorang suami muda tetap dalam kepanikan menenangkan sang istri. Dia sudah tidak tahan mendengar tangisnya. Dia tidak tega mendengar rintihan yang mengoyak jantungnya. Dia ambil payung. Berbekal senter panjang, ia ingin menaklukkan hujan dan sepinya malam. Ia melangkah di atas tanah yang becek. Dia tak peduli cipratan air dan lumpur mengganggu langkah kakinya. Pekatnya malam tidak dia hiraukan. Dia sudah bertekad menemui seseorang. Dia akan memaksa orang itu datang ke rumah.
Dia terus melangkah mendekati rumah orang itu. Di depan rumah orang itu, dia melihat kembali jejak-jejak telapak kakinya. Jejak kaki sebagai bukti kesungguhannya. Dia ketuk pintu rumah orang itu. Tak ada jawaban. Sekali lagi dia ketuk semakin keras. Siapa di luar? Terdengar suara permpuan dari dalam. Saya Mak Ruji. Mak Ruji segera membuka pintu. Tanpa ditanya, dia mengatakan, “Mak, tolong saya. Istri saya mau melahirkan.”
Bogor, 12 Januari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
