Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Membaca, Mimpikah?

Membaca, Mimpikah?

Membaca, Mimpikah?

#Tantangan Menulis Gurusiana Hari ke-2

Seorang penyair terkenal Indonesia, Taufik Ismail dalam puisinya pernah memimpikan sebuah negeri yang penuh dengan orang - orang yang gemar membaca.

Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api,

Di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa,

Kulihat orang-orang di sekitarku membaca buku,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Mimpi itu rasanya menjadi mimpi saya yang menyaksikan para siswa di sudut-sudut teras kelas, di ruang belajar, di kantin sekolah, di perpustakaan, sedang membaca. Apakah akan menjadi kenyataan, entahlah. Namun, kondisi saat ini rasanya harapan itu jauh api dari panggang. Kenapa?

Membaca sebagai kebiasaan yang mengasyikkan belum menjadi kebutuhan siswa. Siswa lebih asyik dengan mendengar dan menonton. Apalagi maraknya game online siswa makin jauh dari kebiasaan membaca.

Membaca sebagai kebiasaan juga tidak pernah menjadi kegalauan pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sadar atau tidak kurikulum tidak memberi ruang untuk melakukan kegiatan membaca buku. Kurikulum lebih menekankan memahami teori dan konsep. Apalagi pada kelas-kelas akhir praktis siswa lebih diarahkan menjadi sniper (meminjam istilah Taufik Ismail) untuk menjawab soal-soal ujian dengan jitu. Praktis di kelas akhir ini, ruang untuk membaca diabaikan. Padahal, melalui kebiasaan membaca siswa akan menguasai berbagai pengetahuan.

Melihat kondisi seperti ini, Sekolah perlu mengarahkan para siswanya untuk mencintai kebiasaan membaca. Apalagi dengan adanya program GLS, gerakan Literasi Sekolah mimpi ini seakan hampir tergapai.

Pertama, guru memulai ”memaksakan” siswa membaca lembaran-lembaran buku selama 15 menit sebelum mulai belajar. Rutinitas ini dilakukan tiga kali dalam sepekan. Setelah itu, siswa wajib melaporkan rangkuman dari apa yang dia baca.

Kedua, tagihan dari pembiasaan membaca selama 15 menit akan siswa informasikan kepada siswa lain. Mereka menyampaikan isi dari buku yang dibaca. Kegiatan ini selain melaporkan isi dari sebuah buku, juga melatih keberanian tampil di depan orang banyak.

Ketiga, melalui pelajaran sastra, siswa diwajibkan membaca novel minimal tiga novel dalam 1 semester. Melalui kebiasaan membaca karya sastra ini, kepekaan siswa terhadap budi pekerti, rasa kebersamaan, kecintaan terhadap sesama akan terbentuk.

Rasanya membaca kini bukan sekedar mimpi lagi. Kita tunggu!

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

Di stasiun bis dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku di baca, di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku di baca,

Di tempat penjualan buku laris di beli,

Dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

Tidak berselimut debu

Karena memang dibaca

(Kupu-kupu di Dalam Buku : Taufik Ismail)

Bogor, 2 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post