Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MEMBUKA AIB MASA KECIL

MEMBUKA AIB MASA KECIL

Oleh : Akhmad Ubedi

#Tantangan Menulis Hari ke 54

Waktu terus berjalan. Tidak akan berhenti sampai di sini. Namun, jejak waktu tak akan hilang sampai kapan pun. Bisa muncul kapan saja. Di mana saja. Mengingat jejak masa kecil bisa jadi kita terpingkal-pingkal. Lucu. Penuh tawa dan canda. Tapi, terkadang ada tingkah yang terasa menggelikan.

Malam belum larut. Jam masih menunjukan angka 9 malam. Di teras rumah sederhana jejak waktu seakan dibuka lebar.Tampak jelas.

Malam itu, saya tidak ada sengaja bertemu teman masa lalu di rumah adik. Dia teman masa kecil. Namanya Banazi. Dia teman main. Bukan teman sekolah. Kami berbeda sekolah dan kelas. Dia 2 tingkat di bawah saya. Tapi, usia dia 2 tahun di atas saya. Anehnya bisa menjadi teman bermain yang asyik.

Pertemuan yang sudah sekian tahun membuka aib masa kicil. Mulailah jejak kecil terkuak ketika ia menyebut nama-nama teman lain. Ada Wardi nama sebenarnya Akhmad Fauzi. Ada Jiki Watu. Nama pemberian orang tuanya Rojikhi. Ia disebut Watu (batu) karena suka hal mistik. Kelak dewasa dia menekuni dunia mistik. Ada Parno Wuduk. Dia disebut wuduk (nama makanan dari beras campur jagung. dikemas dalam daun pisang) karena ibunya jualan wuduk. Masih banyak nama teman-teman yang disebut dengan julukan aneh-aneh. Kami terpingkal-pingkal saat dia menceritakan kejadian tak masuk akal.

Saat itu dunia karate sudah kami kenal dari cerita dan film. Masa anak-anak biasanya masa meniru. Kami saat itu juga meniru gerakan pemain film memecahkan batu bata bertumpuk. Tapi, kami bukan atlit karate jadi hanya 1 bata yang harus dipecahkan. Satu persatu kami memecahkan bata. Berhasil. Giliran parno harus memecahkan bata. Posisi bata tidak telentang seperti kami. Tapi, berdiri. Karuan saja berkali-kali dia tidak sanggup memecahkan bata. Dia menangis. Pulang sambil lari kencang. Kami terpingkal-pingkal. Ini ulah Ozi Wardi.

Satu perilaku yang dibuka malam itu saat kami dikejar-kejar pemilik ladang singkong. Kami kumpulan anak-anak tak tahu etika. Ceritanya kami habis berenang di Kali Gung. Habis itu, naik tanggul di atas kebun singkong. Kami main kejar-kejaran. Singkong dicabut dan terinjak patah. Begitu asyiknya kami bermain dari arah selatan pemilik berteriak sambil mengacungkan cengkrong atau arit (sejenis clurit untuk memotong rumput).

Kami berhamburan menyelamatkan diri. Kami terjun ke sungai tanpa menghiraukan keselamatan. Banazi yang usil terpeleset. Dia terguling dan masuk sungai. Ozi Wardi yang senior melompat lebih dulu. Kami diselamatkan arus sungai sambil berenang menyebar ke sebelah barat Kali Gung. Aib telah dibuka. Jejak masa lau tak bisa terhapus oleh waktu. Aib belum tuntas. Waktu sudah merambat larut..

Tegal, 23 Februari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post