Air Mata Seakan Kering dalam Tiga Puluh Hari
Oleh : Akhmad Ubedi
#TagurHari ke-66
Bagai disambar geledek, aku menerima berita duka berurutan. Belum genap 30 hari, berita duka menjungkir balikan emosi dhoif ini. Tak ada yang tahu batas usia. Tak ada yang mampu menundanya. Tak ada yang berani memprotesnya. Semua pasrah. Semua menerima dengan kesiapan apa adanya.
Empat orang yang aku sayangi telah pergi tanpa pamit. Tanpa meninggalkan satu kata pun. Tanpa peduli aku masih ingin bersamanya. Mereka begitu saja menjauh dariku. Mereka menjaga jarak sejauh-jauhnya dari jangkauanku. Tak akan kembali dekat. Tak akan ada cerita bersamamu. Tak akan ada canda ceriamu. Tak akan ada lagi kenangan indah bersamamu.
Awan kelabu pertama menggantung di langit. Saat aku mendapat kabar sahabat seperjuangan di DKM masjid Ats Tsamaniyah pergi untuk selamanya. Ia telah berjuang melawan virus covid 19. Hanya dalam waktu 11 hari, ia tak mampu melawannya. Ia harus tinggalkan semua yang menyayanginya. Ia harus rela menghentikan membangun masjid yang belum selesai.
Belum kering air mata. Datang berita kedua tidak kalah mengejutkan. Sahabat satu kamar saat prajabatan telah pergi lebih cepat. Ia telah sampai sampai batas waktu. Ia tinggalkan kami. Ia telah kibarkan bendera putih menghadapi virus covid 19. Ia menyerah. Ia pasrah protokol kesehatan dijalani. Ini ketentuan Sang Pencipta. Apapun bisa terjadi kalau memabg batas waktu sudah selesai.
Petir seakan belum puas menyambar. Ia masih gagah menebarkan aura menakutkan. Tepat pukul 23.30 suara gawai membangunkan tidur lelapku. Suara tangis diseberang sana mengguncang kalbuku. Terlihat adik iparku tersenyum. Ia berlari mendekati sang pencipta. Ia menebarkan senyum dan melambaikan tangan perpisahan. Ia lupa menitipkan salam untuk saudara-saudaranya. Ia terlanjur kangen dengan Sang Kholik. Ia lebih memilih mengikuti panggilan Sang Pencipta daripada kami. Ia telah menumui Sang Kholik tepat pukul 23.15. Aku menengadahkan kedua tangan memohon ampunan-Nya.
Hampir kering air mataku. Tinggal setetes lagi. Namun, tetesan terakhir hampir memporak-porandakan pertahananku. Untung saja aku masih ingat betapa lemahnya diriku. Betapa tak berdayanya diriku. Aku tidak terpuruk dalam tangisan tak berbatas. Sahabat lama, berpuluh tahun aku mengenal dia. Berpuluh suka dan duka bersama. Batas waktu akhir dirinya lebih cepat ia gapai. Empat jam menahan sakit terakhir. Ia pun menyerah. Ia kibarkan kain putih setelah sekian lama dalam derita.
Selamat jalan sahabat-sahabatku dan saudara iparku. Kalian lebih dulu menemui Sang Pencipta. Tersenyumlah. Di sana kalian abadi bersama Sang Pencipta. Batas waktumu sudah sampai. Innalillahi wainna illaihi roojiuun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima amal ibadahmu. Kalian meninggal dalam husnul khotimah. Kelak kami semua akan menyusulmu. Itu pasti. Allah sudah berfirman semua mahluk yang bernyawa pasti akan mati.
Bogor, 07032021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
