Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ambulan di Tengah Malam

Ambulan di Tengah Malam

Ambulan di Tengah Malam

#Tantangan Menulis Hari ke-88

Tak pernah menyangka Karto akan naik ambulan di tengah malam. Mendengar kata ambulan saja sudah berdiri bulu kuduknya. Bermimpi pun rasanya tak sudi. Apalagi benar-benar naik ambulan bukan pada waktu yang tepat.

Malam itu, Karto habis mengerjakan dekorasi untuk acara pentas seni yang diadakan sekolahnya. Karto memang sering disuruh oleh guru membantu menyiapkan dekorasi panggung. Bersama teman-temannya Karto bergumul dengan pisau kater, lem, kertas, kain. Ia paling jago membuat huruf-huruf yang indah. Saking serius dan tentu diburu waktu ia mengerjakan proyek itu sampai malam. Ia dengan teman-temannya tidak ingin mengecewakan sekolah. Besok harus selesai sebelum acara dimulai. Begitulah yang dipikirkan ia.

Sampai-sampai ia tidak tahu waktu sudah larut. Ia menyelesaiakan proyek mendekorasi panggung sampai pukul 23.00 WIB. Tentu waktu yang sangat malam bagi seorang Karto. Sekali lagi demi suksesnya acara ia bela-belain pulang larut.

Saat mau pulang Karto bingung. Biasanya dia naik angkot. Tapi, ini sudah larut. Pasti angkot pun satu dua yang lewat. Teman-temannya sudah menyarankan nginep di rumahnya. tapi, Karto tetap tak bersedia. Ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Ia pun tetap memaksakan pulang walau sudah larut malam.

Ia menunggu angkot ditemani dua temannya yang naik motor. Lama tak ada angkot yang lewat. Sementara jam terus bergerak menuju dini hari. Karto tetap berdiri di pinggir jalan menunggu dengan sabar angkot lewat.

“Nah, itu ada angkot lewat. Cepat stop,” kata Sobirin. karto menengok ke arah kiri terlihat lampu mobil menuju ke arahnya. Ia langsung melambaikan tangannya. Mobil itu mengurangi kecepatannya dan berhenti di depan karto. Tapi, karto kecewa yang berhenti bukan angkot tapi mobil ambulan. Seketika dia terpaku, tak berkata apa-apa. Ia cuma berdiri. Tiba-tiba kaca mobil; depan terbuka.

“Mau ke mana, De?” sapa sang supir ambulan.

“Nunggu angkot, Pa,” jawab Karto.

“Sudah malam begini mana ada angkot, hampir jam setengah satu. Ayo ikut, “ ajak pak supir.

Karto dengan ragu-ragu masuk ke ambulan. Dia duduk di samping pak supir ambulan. Ia masih merasa takut. Dia hanya diam.

“ Malam-malam begini kamu baru pulang sekolah?”

“Iya Pak, habis mengerjakan dokorasi panggung buat besok,” sahut Karto.

“Habis dari mana Pak?” tanya Karto memberanikan diri.

“Habis nganter jenazah.”

Seketika Karto reflek melihat ke arah belakang. Masih terlihat keranda teronggok di belakang. Selembar kain putih penutup jenazah berada di atas keranda. Buru-buru ia palingkan wajahnya ke depan. Jalan di depan tampak gelap. Tak ada nyala lampu jalan. Tak ada sorot lampu mobil yang berpapasan. Hanya suara mesin ambulan yang masih terdengar keras di telinganya.

Bogor, 29032021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post