Bukan Benci Tapi Sayang
Oleh : Akhmad Ubedi
#Tantangan Menulis Hari ke-74
Bukan benci tapi sayang. Sering mendengar pernyataan seperti itu? Pasti ya. Bahkan sering pula menyatakan kepada anak-anak saat 'menasihati'. Baca memarahi anak. Sebagai seorang guru tentu pernah menghadapi anak yang tidak melaksanakan perintah dengan baik. Misalnya, anak yang tidak mengerjakan tugas berkali-kali. Anak sering datang terlambat. Mungkin pula saat menghadapi anak yang selalu mengganggu teman lainya. Anak yang bandel.
Ketika menghadapi tingkah anak yang seperti itu, tentu guru akan menasihatinya. Bisa jadi guru akan memarahinya. Itu hal yang wajar. Yang menjadi masalah adalah setelah memarahi anak terucap pernyataan eufemisme. Saya bukan membenci kamu, melainkan sayang. Ketika guru mengucapkan kata-kata keras, ucapan itu bisa disebut sayang. Jelas dia sudah memarahi anak. Dia sudah mengeluarkan ucapan-ucapan yang ‘menyalahkan’ anak atau mungkin menyakiti hati anak.
Mana bisa kemarahan itu pengganti kata sayang. Marah adalah ungkapan perasaan melihat ketidaknyamanan yang dirasakan seseorang. Ungkapan emosi secara fisik melalui raut wajah, bahasa tubuh, atau tindakan agresif seseorang. Penyebabnya bermacam-macam. Tidak usah disebut satu persatu. Hehehe.
Marah selalu menyangkut perasaan hati. Sulit mengatakan bahwa hatinya tidak marah atau kecewa. Tidak ada yang tahu. Tindakan agresif, bahasa tubuh, dan raut wajah saja yang akan memberitahukan bahwa seseorang itu marah. Tindakan agresif itu sering tampak jelas dari ucapan yang keluar dari mulut seseorang. Coba deh Anda melakukan tindakan ini. Anda memotong kendaraan orang lain dengan tiba-tiba. Pasti dari mulut orang itu akan keluar seribu kata-kata indah eh memekakan telinga. Itu tanda marah. Bisakah ucapan orang itu dikatakan sayang.
Tapi, kenapa bisa-bisanya muncul pernyataan saya bukan benci kepada kamu. Saya tidak marah kepada kalian. Tapi, saya sayang. Saya mencintai kalian.
Duh, logika dari mana bisa mengatakan itu. Marah ya marah. Benci ya benci. Tempatkan kata-kata itu pada posisinya. Jangan diputartempatkan pada hal yang berbeda. Katakan yang sebenarnya. Saya marah karena kalian telah melanggar aturan. Saya membenci kamu karena telah mengingkari janji. Jangan sekali-kali mengatakan ini setelah memarahi anak. Saya marah kepada kalian karena sayang. Saya tidak benci kalian tetapi menyayangi kalian.
Bogor, 15032021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
