KEBAHAGIAAN HAKIKI
Kebahagiaan Hakiki
#TantanganGurusiana Hari ke-113
Pernahkah Anda mendengar pertanyaan, apa yang Anda cari dalam hidup ini? Tentu bermacam jawaban yang bisa diberikan dari pertanyaan itu. Masing-masing orang akan menjawab sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman hidupnya. Bisa jadi orang akan menjawab kesuksesan. Saya akan mencari kekayaan. Saya akan mencari kesenangan. Saya akan mencari kenikmatan. Mungkin juga ada yang mengatakan saya akan mencari kebahagiaan.
Jawaban itu semuanya tidak salah. Bagaimana kita memandang hidup ini untuk apa. Kalau sekadar mencari kesenangan di dunia mungkin jawabannya berkaitan dengan materi. Tetapi, ada juga yng mementingkan akhirat mungkin ia akan mengatakan saya akan mencari keridaan Allah. Semua jawaban itu bersumber pada pencarian kebahagiaan. Lalu kebahagiaan yang bagaimana yang dibutuhkan seseorang.
Kebahagiaan memiliki tiga tingkatan.
1. Kesenangan
Kesenangan merupakan tingkatan yang paling dasar atau bawah dari kebahagiaan. Kesenangan ini bersifat materi. Oleh karena itu, kesenangan termasuk tingkatan yang paling rendah dari kebahagiaan. “ Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”.(SuraAl Imron ayat 185)
2. Kenikmatan
Kenikmatan merupakan kebahagian yang dirasakan oleh hati. Kenikmatan akan dapat dirasakan seseorang apabila dia sudah berjalan di jalan yang benar. Dia tidak akan dapat merasakan kenikmatan hidup bila yang ia raih dari jalan yang tidak lurus. “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Surat Al Fatihaah ayat 6 dan 7).
3. Bersyukur
Tingkatan kebahagiaan yang paling tinggi adalah bersyukur. Tidak semua orang mampu melakukan ini. Bersyukur sangat sulit dilakukan orang apabila dia belum sampai pada keyakinan bahwa apa yang dia peroleh di dunia bukan semata-mata usahanya tetapi ada campur tangan Allah. Kalau seseorang sudah sampai pada tingkatan ini, orang tersebut sudah merasakan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang tidak bisa dirasakan orang lain. Kebahagiaan yang hanya ia rasakan dengan hati yang bersih. Dengan bersyukur nikmat kebahagiaan pun bertambah. "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surat Ibrahim ayat 7).
Bogor, 23042021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
