Ziarah Awal Ramadan Sebuah Tradisi
Ziarah Awal Ramadan Sebuah Tradisi
#Tantangan Menulis Hari ke 100
Berbakti kepada orang tua memang tidak mengenal batasan waktu. Anjuran untuk berbakti disebutkan dalam Alquran surat Lukman ayat 14 yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
Ayat itu menyebutkan setelah menyembah kepada Allah SWT, kita diwajibkan berbakti kepada kedua orang tua. Ini menandakkan kedudukan orang tua mendapat perhatian lebih.
Berbakti kepada orang tua bukan hanya pada saat orang tua masih hidup, melainkan juga saat orang tua sudah tiada. Saat seperti ini kita dapat selalu mendoakan agar orabg tua selalu mendapatkan ampunan, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di surga-Nya.
Ketika orang tua sudah tidak ada inilah yang sering banyak dilupakan anak-anaknya. Biasanya mereka baru ingat saat menjelang Ramadan atau Idul Fitri. Mereka berduyun-duyun melakukan ziarah ke makam orang tuanya. Mereka mendatangi kuburnya dengan menabur kembang aneka warna.
Tradisi ziarah ini banyak dilakukan orang pada momen-momen awal Ramadan. Masyarakat melakukan pada waktu yang sama. Kondisi ini menyebabkan area pemakaman penuh peziarah. Mereka memadati area pemakaman. Silih berganti peziarah memenuhi pemakaman.
Apakah salah melakukan ziarah pada waktu itu. Tentu tidak. Namun, akibat waktu ziarah bersamaan menimbulkan dampak bagi masyarakat luas. Pertama, Area pemakaman seketika berubah seakan tempat wisata. Sekitar pemakaman berubah menjadi pasar kaget. Penjual kembang dan keperluan ziarah tersedia di sana. Pasar kaget dan tempat parkir dadakan ini menimbulkan arus lalu lintas tersendat. Kemacetan tidak dapat dihindari. Kondisi ini hampir dimaklumi semua masyarakat. Mereka menganggap hal lumrah. Tidak perlu dimasalahkan.
Kedua, mereka yang harus berziarah kepada keluarganya yang jauh di kampung halaman. Tentu menimbulkan masalah pada membludaknya arus mudik. Mereka akan memadati stasiun, terminal, bandara, pelabuhan penyebarangan dan agen-agen bus menumpuk orang yang ingin berziarah ke kampung halaman.
Ketiga, tradisi berziarah pada saat bersamaan seperti ini tentu menimbulkan masalah sosial. Banyak yang memaksakan diri pulang kampung demi berziarah ke makam orang tua. Mereka tidak menghiraukan kepadatan lalu lintas di perjalanan. Yang penting dapat berziarah pada momen yang tepat awal Ramadan.
Masih maukah melanggengkan ziarah pada saat bersamaan demi melanggengkan tradisi? Jawabnya terpulang kepada Anda.
Bogor, 10042021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
