BANTING STIR
Banting Stir
#Tagur hari ke 126
Kang Karto tiba-tiba menyuruh Murfiah membuang baju seragam supir bus AKAP. Ia kesal dengan aturan pelarangan mudik yang diterapkan pemerintah dan satgas penanganan covid. Ia protes kepada kebijakan itu, tapi nggak punya cara yang lebih baik kecuali membuang baju seragam crew supir. Ia sudah tidak peduli lagi dengan profesi supir bus yang sudah dijalani bertahun-tahun. Ia merasa di PHK paksa. Ia harus jadi pengganggur paksaan.
“Kang, kamu yang sabar ya,” kata Murfiah melihat Kang Karto kecewa berat. Ia tidak bisa berkata lain. Sepulang menjalankan tugas mengantarkan penumpang dengan selamat dari Jakarta ke Tegal biasanya pagi-pagi Kang Karto minta dibuatkan teh tubruk. Sambil bercerita dia menyeruput teh tubruk buatan istrinya dengan nikmat. Pagi ini dia bukan minta dibuatkan teh tubruk tapi malah menyuruh membuang baju seragamnya. Ia tidak ingin lagi melihat kenangan sebagai supir bus. Cukup sudah kekecewaan dia yang dipaksa berhenti.
Kang, kita jangan putus asa. Biarlah ini awal dari perubahan di keluarga. Kita harus tinggalkan profesi supir. Kita akan mulai dengan satu pekerjaan baru. Kang Karto tidak usah takut dengan kondisi lebaran kali ini. Aku sudah merencanakan membuka jasa cuci baju kiloan. Wajah Kang Karto tiba-tiba sumringah. Ia langsung memeluk Murfiah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
