DILEMA
DILEMA
#Tagur Hari ke 124
Kang Karto nekad. Ia sudah tahu dilarang pulang kampung tetap saja tidak peduli. Ia ngotot tetap ingin ke kampung. Karuan saja Sangidun sebagai sahabat karibnya tidak setuju. Ia harus mengingatkan Kang Karto sebelum semuanya berantakan.
“Kamu bener mau ke kampung, To?” Tanya Sangidun saat duduk di depan kontrakan Kang Karto. Yang ditanya cuma mengangguk tanpa sepatah kata pun terucap. Kang Karto tampak serius. Sampai tidak perlu mengatakan dua kali keinginannya. Kalau sudah seperti ini Sangidun tidak akan mampu menyurutkan keinginannya. Ia tahu kekerasan hati Karto. Ia sudah paham watak Karto. Kekerasaan hatinya yang kadang mengalahkan nalar. Sangidun memang sudah hafal karakter keras kepalanya.
Sejak mereka sekolah dulu, sifat keras kepalanya tidak pernah berubah. Kang Karto tidak akan mengurungkan niatnya bila menginginkan sesuatu. Ia ingat saat Karto tetap nekad ingin ketemu Murfiah. Padahal saat itu hujan sangat lebat. Petir menyambar-nyambar menakutkan. Suara guruh pun menggelegar tapi tetap saja Karto mengajak Sangidun menerobos lebatnya hujan.
“Kamu mau ikut ndak!” Ajak Karto sedikit memaksa Sangidun.
“Ndak, kamu lihat sendiri hujan lebat begini. Kita tunggu biar reda dulu. Toh, Murfiah ndak bakalan ke mana-mana. Dia pasti nunggu kamu karena dia tahu lagi hujan begini.” Sangidun tak kalah sewotnya kepada Karto.
“ Ya wis, kalau kamu ndak mau ben, aku mau ke rumahmu ketemu Murfiah.”
“Kamu mikir sedikit kenapa, tunggu sebentar lagi.” Sangidun mencoba menahan Karto agar mau bersabar sebentar.
“Ok, kamu di sini. Aku akan ke rumahmu sendiri. Kamu silakan bengong di sini menunggu sampai hujan reda.” Sangidun akhirnya menuruti keinginan Karto, walau dengan perasaan dongkol.
Kali ini Sangidun benar-benar khawatir. Karto tak akan bisa dikekang keinginannya. Apalagi aku tahu, Murfiah sedang hamil tua. Menurut perkiraan menjelang lebaran dia akan melahirkan anak keduanya. Waktu anak pertamanya lahir Karto pun tidak ada di sisi Murfiah. Karto pasti tidak ingin untuk kedua kalinya tidak berada di samping Murfiah di saat-saat dia berjuang antara hidup dan mati. Karto pasti ingin mendampingi istrinya untuk memberikan dukungan mental. Paling tidak ia ingin meringankan beban ketakutan istrinya atau sekadar mengelap keringat di keningnya saat kontraksi berlangsung.
BERSAMBUNG ....
Bogor, 04052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
