KORBAN MISTERIUS
KORBAN MISTERIUS
#Tagur Hari ke-129
Berita penemuan mayat tersungkur di rimbunan pohon pisang di kebun Pak Sopian mendadak mengguncang desa Kajen. Desa yang tenang dengan masyarakat yang religius hari ini bak disengat ribuan tawon. Warga desa Kajen berhamburan mendatangi lokasi penemuan mayat laki-laki. Tak ada yang kenal dengan korban. Dia bukan warga desa ini. Inilah yang membuat tanda tanya warga.
“Ini seperti peristiwa empat puluh tahun yang lalu. Mungkinkah akan muncul lagi kejadian yang pernah mengguncang pelaku kejahatan di negeri ini?” Desis Pak Warjiman melihat kondisi mayat yang ciri-cirinya sama persis empat puluh tahun lalu.
Awal tahun delapan puluhan, tahun yang telah mengguncang dunia kriminal di negeri ini. Tingkat kejahatan saat itu sudah sangat mengkhawatirkan masyarakat dan bangsa. Tingkat kejahatan sudah sangat tinggi. Masyarakat dan kepolisian sudah kewalahan mengatasi tindak kejahatan ini. Hampir tiap detik terjadi tindak kejahatan secara terang-terangan di sudut-sudut kota. Ketakutan telah melanda masyarakat. Stabilitas keamanan akan semakin terganggu bila dibiarkan terus.
Tiba-tiba masyarakat dikejutkan dengan mayat-mayat yang tergeletak di pinggir jalan. Hampir setiap hari, ada mayat ‘dikarungi’ tergeletak di pinggir sawah. Di sudut-sudut jalan yang ramai dilalui orang. Di semak-semak dan di tempat-tempat yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang. Mayat-mayat misterius bergelimpangan dengan posisi bermacam-macam. Tapi semua korban misterius itu punya ciri yang hampir sama, di tubuh korban selalu ditemukan tato beraneka gambar.
Ia ingat kepada Mugianto yang nasibnya sangat tragis. Saat itu, dia baru pulang dari rumahnya. Malam itu Mugianto sudah ketakutan. Dia seakan sudah diincar untuk dijadikan korban. Ia mengutarakan keinginannya ke Warjiman untuk membuang gambar elang di tangan kanannya. Tato yang menjadi ciri kelompoknya sangat mengganggu.
“Man, aku akan menyeterika tato ini,” katanya dengan nada ketakutan.
“Kamu sudah siap dengan akibat terkelupasnya kulit tangan kamu.”
“Aku sudah tidak bisa berpindah-pindah tempat terus, Man. Di sudut-sudut aku bersembunyi selalu ada mata mengincarku.
“Tolong aku ya, kamu seterika tatoku,” katanya memohon kepada Warjiman. Esoknya belum ia menyeterika tato Mugianto, ia sudah tergeletak di pinggir perempatan.
Pak Warjiman melangkah lebih dekat kepada sesosok mayat itu. Ia pandangi dengan teliti setiap lekuk tubuhnya. Ia makin yakin ini persis empat puluh tahun yang lalu ketika seorang temannya harus menjadi korban misterius.
Bogor, 09052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
