PERTEMUAN TAK SENGAJA
PERTEMUAN TAK SENGAJA
Cerpen (2)
#TantanganGurusiana hari ke 139
Aku ingat saat ulangan Matematika. Tanpa pemberitahuan lebih dulu sebelumnya, Pak Badrudin langsung menyuruh mengeluarkan kertas untuk ulangan. Teman-teman pada protes. “Pak, kan Bapak belum kasih tahu hari in i ulangan!” protes teman-teman. Pak Badrudin cuek saja atas protes muridnya. Untung di sampingku ada Sabar. Aku agak tenang. Sementara yang lain ngomel-ngomel dalam hati, aku senyum-senyum. Aku yakin Sabar pasti mau aku contekin. Dia jagonya Matematika. Benar juga besoknya pas ada pelajaran Matematika Pak badrudin membagikan hasil ulangan. Tak kusangka nilaiku 90. Padahal, tanpa Sabar nilaiku pasti 30 paling tinggi 40.
Mulai saat itu aku terpacu belajar Matematika dibantu Sabar sebagai tutorial sebayaku. Lama-lama aku mulai menyukai pelajaran yang sejak awal paling kubenci. Saat pembagian rapor, orang tuaku kaget nilai Matematikaku 90. Sejarah terbaikku sejak aku kenal Matematika.
Selepas SMA aku hilang kontak dengan Sabar. Aku pernah berkirim pesan saat dia mengabarkan di terima di perguruan ternama di Yogyakarta. Sementara aku kuliah diterima di perguruan ternama di Depok. Setelah itu, aku tak pernah lagi saling berkirim pesan lewat massanger. Tak pernah tahu lagi di mana Sabar. Saat reuni kelas pun tak ada yang tahu di mana Sabar. Bertahun-tahun kami tak saling komunikasi. Keluarganya sudah tak tinggal lagi di kota ini. Hari ini aku tak sengaja ketemu dia.
“Dika, aku malu sama kamu,” dia ulangi lagi kalimat itu. Ketika kami sudah duduk di resto mal Kota Casablanca. Aku sengaja ajak dia mengenang masa-masa sekolah. Dulu aku sering main ke mal Kota Casablanca sama Sabar. Aku biarkan Sabar terus bercerita sambil menikmati secangkir kopi.
“Dik, kamu masih ingat sebelum kita lulus SMA?”
“Maksudku, ayahku.”
“Ya, waktu itu aku sempat tanya kamu. Tapi, kamu seakan mengalihkan pembicaraan,” jawabku.
Dia diam. Pandangannya menyapu orang-orang yang ada di dalam resto ini. Sesekali kuperhatikan ia menarik napas seakan untuk menguatkan perasaannya yang ingin ia luapkan.
Aku tunggu apa yang ingin Sabar ceritakan sampai ia merasa malu denganku. Keceriaannya tak tampak lagi. Rasa humorisnya seakan hilang begitu saja. Dia bukan Sabar yang dulu. Sabar yang selalu berpenampilan rapi. Aku yakin ada membuat perubahan drastis seperti ini. Dia merasa kehilangan jatidirinya.
BERSAMBUNG...
Bogor, 19052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
