Sebuah Dilema Membuka atau Menutup Tempat Wisata
Sebuah Dilema Membuka atau Menutup Tempat Wisata
#Tagur hari ke 135
Miris menonton tayangan salah satu televisi swasta banyak wisatawan domestik bergerombol tanpa mematuhi protokol kesehatan. Sementara pemerintah bersama satuan tugas (satgas) penanganan covid 19 berusaha maksimal mengatasi penyebaran covid 19.
Terlihat wisatawan mandi di laut tanpa menjaga jarak apalagi menggunakan masker. Mereka dengan tanpa takut dan resah menikmati destinasi wisata. Bahkan, terlihat petugas satpol PP menyerahkan masker kepada pengunjung yang tidak menggunakan masker.
Ada dilema di sini. Larangan mudik membuat beberapa orang harus menahan kecewa tidak dapat berlebaran bersama keluarga di kampung halaman. Mereka berjuang untuk bisa sampai di kampung halaman dengan menerobos penyekatan yang dijaga aparat. Ada yang mencari jalan yang membahayakan keselamatan bahkan jiwa demi pulang kampung. Ada yang harus dipaksa putar balik karena melanggar larangan mudik. Bahkan sampai ada korban jiwa karena perahu yang mereka tumpangi untuk menghindari penyekatan terbalik. Namun, lokasi wisata tetap dibuka untuk wisatawan. Walaupun kapasitas pengunjung dibatasi hanya 50 persen pengunjung, di tempat ini sangat rawan berkumpulnya orang banyak.
Siapa yang dapat menjamin di tempat-tempat wisata pengunjung dapat menjaga protokol kesehatan dengan menjaga jarak. Sangat mustahil orang yang sedang berwisata duduk berjauhan. Duduk bersama rombongan tapi jarak duduk minimal 1 meter. Berjalan beriringan tidak saling berdekatan. Apalagi saat makan bersama rasanya sulit menjaga jarak sesama rombongan, kecuali dia datang sendiri. Bagaiman pengelola dapat memastikan itu? Sementara petugas tidak cukup untuk setiap menit menyuruh pengunjung jaga jarak.
Mayarakat pun butuh rekreasi, apalagi pada saat hari berbahagia. Mereka ingin merayakan di tempat-tempat wisata saat mereka tidak dapat berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Namun, dengan berkumpulnya orang banyak resiko penyebaran covid 19 juga semakin besar. Harganya terlalu mahal.
Miris dan sedih mendengar berita terbaliknya perahu di tempat wisata Waduk Kedung Ombo. Berita mengatakan diperkirakan perahu kelebihan penumpang. Nah, apakah dengan banyaknya penumpang bisa menjaga jarak antarpenumpang. Tentu tidak. Para penumpang bisa dipastikan duduk berdekatan. Sudahkah mereka mematuhi protokol kesehatan? Lalu, alasan apalagi dengan tetap melarang mudik tetapi membolehkan membuka tempat-tempat wisata. Sebuah dilema bagi pemerintah dan satgas penangan covid 19. Semoga kejadian ini dapat membuka pengambil kebijakan benar-benar mematuhi protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran covid 19. Hargai usaha pemerintah dan satgas. Berikan rasa empati kepada mereka yang tidak bisa mudik karena mereka patuh terhadap imbauan pemerintah dan satgas covid 19. Jangan hanya nilai ekonomis yang dilihat tapi nilai kemanusiaan dan jiwa merupakan harga yang paling mahal.
Bogor, 15052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
