ULTIMATUM MANJUR
ULTIMATUM MANJUR
#TantanganGurusiana hari ke-142
Rasa penat terasa. Malam ini aku baru sampai rumah. Sejak sore tadi aku sudah menuju tempat resepsi pernikahan putra Bosku. Acara mulai pukul 19.00 di Tridas Waterpark daerah Tambun Selatan, kabupaten Bekasi. Aku sengaja berangkat dari Bogor pukul 16.30 supaya bisa sampai tepat waktu. Aku sudah perkirakan daerah Bekasi sangat padat kendaraan. Pasti macet apalagi Sabtu sore. Aku harus antisipasi kemacetan yang parah di sepanjang jalan Kalimalang menuju tempat resepsi.
Perkiraanku tepat. Begitu keluar tol Grand Wisata, Tambun, aku harus menahan kesabaran tingkat tinggi. Aku sudah bilang sama istri dan anak perempuanku. Awas nanti tidak ada yang ngomel sepanjang perjalanan. “Kenapa?” Tanya istri.
“Sepanjang jalan di Kalimalang kalian akan sering berhenti lama. Sebentar-sebentar harus menahan emosi”. Kataku. Sabar dan mengalah itu yang kalian butuhkan. Jadi tidak ada omelan, protes, atau memaki-maki kemacetan.
Ultimatum yang aku berikan sebelumnya ternyata manjur. Istri dan anak perempuanku menikmati kemacetan dengan tenang. Tak terdengar satu kata pun yang nada temponya tinggi. Mereka anteng di mobil. Sekali-sekali aku ajak ngobrol tak ada ujung pangkalnya. Tawa renyah terdengar nikmat di telingaku.
Ketika menjelang persimpangan di Kalimalang, aku harus menunggu 30 menit hanya untuk berbelok ke kanan. Panjang antrean 1 kilometer. Ekor kemacetan sampai Jalan Boulevar Grand Wisata. Lepas dari kemacetan aku terus melaju sepanjang Jalan Kalimalang. Namun, memasuki Jalan Abu Bakar sepanjang 1,5 kilometer menujuju jalan Pantura, aku harus sangat hati-hati. Jalan tidak begitu lebar. Sepanjang jalan dua arah cukup ramai. Aku harus ekstra hati-hati dengan pengendara motor yang kadang-kadang mengunakan jalur dari arah sebaliknya.
Aku tetap tenang karena ultimatum yang kuberikan masih dipatuhi. Tak ada protes. Suasana terasa nyaman. Inilah perjalanan yang benar-benar dinikmati walau waktu tempuh lebih dari perkiraan. “Brakkk, spion kanan ditabrak dari arah berlawanan. Kami tetap tenang. Tak ada umpatan. Tak ada kata tak mengenakan. Semua diam, sepi. Kulirik istri dan anak perempuanku. Mereka tidur menikmati kemacetan panjang. Untung, aku sudah berikan ultimatum.
Bogor, 22052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
