Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cerita Tukang Cukur

Cerita Tukang Cukur

Cerita Tukang Cukur

#TantanganGurusiana hari ke 164

Masih terlihat muda. Umurnya belum genap 24 tahun. Namun, tangannya sudah sangat cekatan menggunting rambut. Kang Karto seorang tukang cukur rambut asal Garut. Perawakannya sedang ukuran orang Indonesia. Tinggi badan sekitar 163 cm, berat badannya seimbang 55-an kg. Kulitnya bersih, bagi orang Indonesia kulitnya termasuk putih.

Sekilas melihat umurnya yang masih teramat muda , aku mengira Kang Karto masih lajang. Ternyata penglihatanku keliru. Kang Karto sudah menikah 4 tahun lalu. Sekarang dia sudah memiliki anak usia 3 tahun. Bocah laki-laki yang menjadi kebanggaan Kang Karto.

Sambil terus memotong rambut, aku tergelitik untuk mengetahui serba sedikit tentang Kang Karto. Aku pancing dia untuk berbagi cerita. Kang sudah berapa lama menekuni profesi ini. Mulanya dia agak ragu untuk bercerita. Tapi, kegigihanku memancing dia, akhirnya mulai juga dia bercerita.

Kang Karto bercerita sebelum menjadi tukang cukur rambut profesional. Awalnya, kata dia, ia hanya ikutan Kang Asep. Dia tetangga Kang Karto yang sudah menjadi tukang cukur rambut. Mulanya Kang Karto tidak berniat belajar mencukur rambut. Ia hanya sekadar main sepulang sekolah. Lama-lama ia menikmati gerakan tangan Kang Asep yang cekatan. Ia perhatikan bagaimana Kang Asep mencukur rambut. Ia amati gerakan tangannya. Caranya memegang sisir. Bagaimana memotong rambut dengan gunting cukur elektrik. Sampai ia perhatikan gerakan pisau cukur saat memotong sisa rambut sekitar telinga.

Kang Karto sangat tekun memperhatikan Kang Asep saat memotong rambut. Kang Karto belajar sepulang sekolah. Ia lakukan selama sebulan. Kursus secara langsung tanpa teori yang dilakukan Kang Karto tidak sia-sia. Dalam waktu kurang lebih sebulan ia sudah berani mempraktikan ilmu yang ia sadap dari Kang Asep.

“Awalnya sedikit gemetaran tangan saya ketika mulai memegang kepala. Untungnya uji coba itu saya lakukan kepada anak-anak,” katanya sambil sedikit tertawa. Aku juga ikut tersenyum. Mungkin Kang Karto melihat senyumku lewat kaca besar yang terpajang di depan kursi pangkas.

“Selesai mencukur, keringat saya bercucuran. Baju saya basah, Pak. Tapi, saya telah berhasil. Orang tuanya tidak komplain,”.

“Pertama mencukur saya dikasih uang Rp5000,00. Sisanya yang Rp5000,00 untuk Kang Asep yang punya tempat. Saya sangat senang menerima bayaran pertama, bukan karena nilainya tapi kepercayaan diri. Saya sudah bisa mencukur rambut.”

Selama satu minggu Kang Karto hanya dipercaya mencukur rambut anak-anak. “Bagi saya tidak masalah.”

“Bukannya malah susah mencukur rambut anak?” tanyaku.

“Malah enak, Pak! Anak-anak tidak banyak menuntut. Yang jelas tidak ada komplain dari anak kalaupun kurang rapi,” masih terdengar suara tawanya. Aku pun ikut tertawa tapi cuma dalam hati.

“Tapi, ada yang harus saya bayar mahal Pak.”

“Apa?” Aku penasaran ingin tahu kelanjutan cerita dia.

“Saya harus berhenti sekolah. Padahal, orang tua tidak menghendaki saya putus sekolah. Paling tidak lulus SMA,” katanya. Saat itu saya masih kelas sebelas. Terpaksa saya harus meninggalkan masa-masa SMA yang penuh kenangan.

Selama dua tahun dia menggeluti dunia pangkas rambut. Dia sudah beberapa kali pindah tempat. Namun, Kang Karto belum berani membuka tempat pangkas rambut sendiri. Ia masih bergabung dengan orang lain. Sistem pembagian upahnya masih seperti pertama dia mencukur, setengah untuk pemilik setengahnya untuk dia.

Saat usia dia 19 tahun, Kang Karto mulai pacaran dengan gadis satu kampung. Awalnya sih belum serius untuk menikah. Bapaknya yang memaksa Kang Karto menikah. Sebenarnya rencana Kang Karto usia 25 tahun ia menikah. Tapi, ia tidak bisa menolak keinginannya. Kang Karto harus mau menikah saat usia belum genap 20 tahun. Usia yang masih terbilang belia. Satu tahun pernikahannya dia dikaruniai seorang bocah laki-laki. Kini bocah itu usianya 3 tahun. Kang Karto bersyukur dalam usia yang cukup muda sudah mendapat amanah dari Yang Maha Kuasa. Dia akan meneruskan profesi tukang cukur rambut demi masa depan keluarganya.

“Cukup, Pak!”

Aku kaget. Pertanyaan itu membangunkan lamunanku. Aku sedang terbawa cerita Kang Karto. Tiba-tiba rambutku sudah rapi.

“Ya, ya , cukup,” kataku agak terbata-bata.

Bogor, 14060221

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post