KETAKUTAN
KETAKUTAN
#Tagur hari ke-174
Siapa pun akan merasa berdebar-debar saat menanti kelahiran sang buah hati. Walaupun kelahiran itu bukan anak pertama, bisa jadi anak kedua atau mungkin anak kelima. Namun, kelahiran selalu saja menghadirkan perasaan cemas, was-was, dan perasaan khawatir lainnya.
Inilah yang Kang Karto rasakan. Detik-detik mendebarkan saat menanti kelahiran anak kedua. Berbeda dengan anak pertama. Kelahiran anak kedua membuat dia hilang kepercayaan diri. Kang Karto melepaskan logika nalar. Seakan dia melupakan kuasa Allah. Padahal, doa kepada Allah tidak pernah dia lupa. Namun, perasaan takut selalu menghantuinya.
Rasa takut sudah dia rasakan sejak sembilan bulan lalu. Tapi, dia menyimpan rahasia itu dengan rapat. Rahasia yang tidak pernah dia buka kepada siapa pun. Murfiah tak pernah dia beri tahu. Kang Karto simpan sendiri dalam waktu yang sangat panjang. Sembilan bulan dia simpan rapat ketakutannya. Kang Karto tidak ingin Murfiah tahu. Murfiah akan terguncang jiwanya bila mengetahui masalahnya. Dia akan selalu dihantui bayangan kelam. kang Karto tidak ingin semua itu terjadi. “Biarlah rahasia ini aku sendiri yang merasakan.”
Sungguh sangat tidak mengenakan. Setiap hari bergelut dengan khayalan yang tidak jelas. Kang Karto harus kuat menghadapinya. Dia hanya mengadu kepada Allah di saat tengah malam. Saat banyak orang tertidur lelap. Dia menangis dalam doa. Tetesan air matanya mengalir deras setiap kata yang terucap dalam doa.
Kang Karto yakin istrinya tahu perubahan ini. Dia merasakan getar yang tersembunyi padanya. Tapi, Murfiah tidak pernah mengorek perubahan drastis yang Kang Karto lakukan. Mungkin dia juga ingin menjaga perasaan suaminya atau pura-pura tidak peduli. Entah. Yang pasti 9 bulan sejak dia dinyatakan positif hamil, gerak kegelisahan itu muncul.
Sejak itu, hati Kang Karto mulai berdebar-debar. Dia sengaja mengambil jarak. Dia tidak berani untuk menatap perut Murfiah yang mulai membuncit. Kenginan menyentuh perut Murfiah selalu terhalang bayangan hitam. Dia tidak kuasa mengelus janin yang ada pada rahimnya. Kang Karto seakan melayang pada pusaran angin. Berputar-putar melambung. Dia dibawa mengitari ketidakpastian. Dia ingin berteriak agar diturunkan dari putaran yang tidak menentu. Namun, tak bisa ia lakukan.
Kang Karto seperti berjalan dalam gelapnya malam. Tak ada pegangan. Tertatih-tatih mencari kepastian sampai ke ujung penantian. Beban yang dia simpan terlalu berat. “Aku harus kuat menghadapi ini,” keluhnya.
Sembilan bulan sudah lewat. Kini di hari yang mendebarkan. Saat menunggu kehadiran anak keduanya. Kang Karto pasrah. Dia tak ingin Murfiah terlihat cemas akan sikapnya. Dia tak boleh menambah rasa sakit Murfiah saat perutnya menahan rasa mulas tak terkira.
Inilah pertama kali Kang Karto mulai mengubah sikapnya setelah sembilan bulan acuh kepada Murfiah. Kang Karto mengelus perut buncit Murfiah. Rasa sakitnya menjalari jiwanya. Egonya runtuh melihat rintihan Murfiah. Dia peluk Murfiah
Rumahku, 24062021.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
