Mbah Sambiyo
Mbah Sambiyo
Oleh : Akhmad Ubedi
#Tagur hari ke 179
Hari belum begitu sore. Matahari masih tampak di atas langit sebelah barat. Seperti biasa Mbah Sambiyo sudah bersiap-siap meninggalkan sawah. Ia tengok ke arah barat langit masih tampak terang. Sore ini langit tampak cerah. Tak ada awan hitam di langit.
Mbah Sambiyo segera merapikan peralatan bertaninya. Ia cuci cangkulnya di parit yang mengalir di pinggir petak sawahnya. Ia ingin segera sampai rumah. Ia sejak pagi meninggalkan cucu perempuan satu-satunya yang masih berumur 10 tahun.
Samiyati sejak umur 4 tahun telah ditinggalkan kedua orang tuanya. Saat itu, Samiyati anak perempuan yang sedang lucu-lucunya tinggal bersama Kakek neneknya di rumah. Sementara kedua orang tuanya sedang ke pasar. Tidak seperti biasanya Samiyati hari itu rewel sekali. Ia sebentar-sebentar menangis. Kakek dan neneknya sudah berusaha menghibur tapi tangisnya tidak mau berhenti.
Mbah Sambiyo sampai bingung menghadapi kerewelan Samiyati. Ia menyuruh istrinya untuk menyiapkan makan siapa tahu Samiyati sudah lapar. Samiyati tetap tidak mau makan. Ia masih gelisah dan terus merengek kepada neneknya. Suara tangisan Samiyati sangat menyayat hati Mbah Sambiyo dan istrinya. Mbah Sambiyo gendong Samiyati dan diajak keluar rumah.
Ia gendong cucu kesayangannya putar-putar di sekitar rumahnya. Ia hibur Samiyati agar tidak menangis lagi. Samiyati sebentar diam sebentar menangis lagi. Mbah Sambiyo sangat bingung dengan situasi yang tidak biasanya. Jarang sekali cucunya menangis lama seperti hari ini. Tak biasanya cucunya rewel seperti ini. Neneknya pun sudah kehabisan cara menenangkan cucunya.
Mbah Sambiyo ikut merasakan situasi yang muncul tidak seperti hari-hari kemarin. Ia sebagai orang tua merasakan ada sesuatu yang berbeda. Udara panas padahal langit agak mendung. Tak ada tanda-tanda mau hujan. Tapi tiba-tiba awan mendung menyelimuti langit. Mbah Sambiyo keluar rumah dan duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Matanya menatap kosong ke arah jalan di depan rumah. Yang terlihat iring-iringan bebek yang berjajar rapi menuju ke sawah. Tak lama tiga ekor kerbau melintas diiringi seorang bocah mengenakan caping.
Mbah Sumbiyo berdiri berjalan mondar-mandir. Ia menoleh ketika seorang perangkat desa datang tergopong-gopoh. Ia langsung menemui Mbah Sambiyo. Wajahnya tampak ragu untuk menyampaikan kepada Mbah Sambiyo. Mbah Sambiyo langsung lemas mendengar berita anak dan menantunya mengalami kecelekaan. Ia tak mampu berdiri. Ia bersandar di pohon mangga.
Mbah Sambiyo menepi ketika anak-anak berlarian hampir menambrak dirinya. Ia berjalan makin cepat. Ia ingin segera sampai ke rumah. Kasihan Samiyati sudah terlalu lama ia tinggal.
Bogor, 29062021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
