Suara Gaib (part 2)
Suara Gaib
#TantanganGurusiana hari ke 161
Aku terus menyusuri lorong panjang. Semakin gelap hanya angin senja yang mengiringi langkahku. Aku semakin takut menyusuri lorong panjang. Desir angin semakin kencang. Aku tutupi telingaku. Aku minta hentikan suara itu. Aku tak kuat mendengar suaranya. Aku berteriak.
“Hentikan!” Teriakku ketika suara angin itu makin menderu.
“Aku tak sanggup meneruskan perjalanan. Cukup sampai di sini,” kataku memohon.
“Diam!” Suara itu membentak.
“ Jangan bawa aku ke tempatmu!”
Aku berlari makin kencang. Pohon turi yang berjajar di sepanjang jalan menatap garang. Rantingnya menggapai-gapai meraih tubuhku. Aku kibaskan ketika salah satu ranting menyentuh pundak. Dia semakin kuat mencengkram pundakku. Serentak yang lain ikut menarik tanganku. Aku terus berontak. Sekuat tenaga aku berusah melepaskan diri.
“Lepaskaaaaan, kau tidak bisa memaksa begini,” sambil kukibaskan cengkramannya. Seketika suara itu mengema keras sekali.
“Belok ke kiri!” Suara itu kembali memerintahku. “Kamu harus menuruti perintahku.”
“Tidak!”
“Tak ada yang sanggup menolak kemauanku. Belok ke kiri, cepat!” Suara itu membentak bagai guntur memekakan telinga. Aku semakin menggigil.
“Tolooong!”
“Hahahaha, siapa yang akan menolongmu?”
“Kamu tak bisa lepas dari tangaku.”
Napasku terengah-engah. Aku sudah kehabisan tenaga. Mataku berkunang-kunang. Kepalaku makin berputar-putar. Aku tak sanggup berdiri. Tubuhku luruh di atas rerumputan. Aku sudah pasrah. Tubuh lemasku tergeletak dalam ketidakpastian. Suara angin yang sejak tadi mengganggu gendang telingaku tak bersuara lagi. Sunyi mencekam. Warna merah menyala terlihat di langit barat. Warna yang akan berganti kelam. Aku sudah benar-benar tak punya harapan untuk kembali. Tak perlu lagi aku menangis. Tak perlu lagi aku berteriak. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. kakiku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku.
“Ayo bangun!” Suara itu kembali membentakku.
Pohon turi yang mengerjarku kini sudah berdiri di depanku. Ia julurkan ranting-rantingnya merengkuh lenganku. Tubuhku diangkat dengan kasar. Aku pasrah. Aku sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Tubuhku diseret menyusuri lorong panjang.
“Belok kanan!” Suara itu terdengar lagi. Aku sudah tak peduli.
Bogor, 11062021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
