RICUH
RICUH
#Tagur hari ke 192
Kang Karto tak biasanya mau membantu Murfiah memasak. Sejak pernikahan sampai sekarang belum pernah seperti ini. Biasanya Karto asyik sendiri di depan televisi atau main game. Sementara Murfiah sendirian sibuk di dapur. Sebenarnya bukan salah Kang Karto. Murfiah sendirilah yang meminta agar Kang Karto tidak pantas suami kok ada di dapur. Ini kewajiban istri Begitu pikiran Murfiah.
Murfiah kaget. Kang Karto tiba-tiba di samping Murfiah yang sedang mengupas bawang. Murfiah tak percaya Kang karto mulai ikut mengupas bawang. Tangannya cekatan. Satu persatu bawang telah ia kupas setelah itu ia taruh di tupperware. Murfiah tidak ingin mencegah Kang Karto. Ia biarkan saja apa yang dilakukan Kang Karto. Ia lihat di tupperware sudah banyak bawang yang telah bersih. Murfiah dalam hati tersenyum.
Tiba-tiba Kang Karto berteriak. Matanya perih. Ia kucek dengan punggung tangan kanannya. Bukannya hilang rasa perih. Matanya bertambah perih. Kang Karto berlari ke kamar mandi. Ia guyur mukanya. Berkali-kali kucek-kecek matanya. Diraihnya handuk yang tergantung di kamar mandi. Murfiah hanya tersenyum.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan