Mendung telah Pergi
Mendung telah Pergi
Siapa pun akan merasa berdebar-debar menanti kehadiran sang buah hati. Walaupun kehadiran itu bukan anak pertama, bisa jadi anak kedua atau mungkin anak kelima. Namun, prosesi kelahiran selalu saja menghadirkan perasaan cemas, was-was, dan perasaan khawatir lainnya. Hatta, kedua pasangan itu sudah siap, tetap saja perasaan itu tak lenyap dari dirinya.
Inilah yang aku rasakkan. Detik-detik mendebarkan saat menanti kelahiran anak kedua. Berbeda dengan anak pertama. Kelahiran anak kedua membuat aku hilang kepercayaan diri. Aku melepaskan logika nalar. Aku seakan melupakan kuasa Allah. Padahal, doa kepada Allah tidak pernah aku lupa. Namun, perasaan takut selalu menghantuiku.
Aku menyimpan rahasia yang rapat. Rahasia yang tidak pernah aku buka kepada siapa pun. Jangankan kepada orang lain, istriku pun tak pernah aku beri tahu. Aku simpan sendiri dalam waktu yang sangat panjang. Sembilan bulan aku simpan rapat ketakutanku. Aku tidak ingin istriku tahu hal ini. Seandainya ini aku sampaikan pasti akan mempengaruhi perasaan dia. Bahkan, pasti akan mengganggu persalinannya.
Biarlah rahasia ini aku sendiri yang merasakan. Walaupun sungguh sangat tidak mengenakan, aku harus kuat. Aku harus tabah mengadapi gejolak perasaanku. Aku hanya mengadu kepada Allah di saat-saat tengah malam. Saat banyak orang tertisur lelap. Aku menangis dalam doa. Tetesan air mataku mengalir deras setiap kata yang terucap dalam doaku. Aku mengadu pada Allah.
Aku yakin istriku tahu perubahan ini. Aku juga merasakan getar yang tersembunyi padanya. Tapi, dia tidak pernah mengorek perubahan drastis yang aku lakukan. Mungkin dia juga ingin menjaga perasaanku atau pura-pura tidak peduli. Entah. Yang pasti 9 bulan lebih 8 hari sejak dia dinyatakan positif hamil, gerak kegelisahan itu muncul.
Sejak itu, aku tidak berani untuk menyentuh perut istriku. Aku tidak kuasa mengelus janin yang ada pada rahimnya. Aku seakan melayang pada hempasan angin tak tentu. Berputar-putar melambung. Aku dibawa mengitari ketidakpastian. Aku ingin menjerit, tapi tak bisa. Aku ingin berteriak agar aku diturunkan dari putaran yang tidak menentu.
Aku seperti berjalan dalam gelapnya malam. Tak ada pegangan. Tertatih-tatih mencari kepastian sampai ke ujung penantian. Berat rasanya beban yang kusimpan.
“Aku harus kuat menghadapi ini,” keluhku dalam setiap langkah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
