Ada Apa dengan Guru (3)
Ada Apa dengan Guru (3)
Ada Apa dengan Guru (3)
Berita duka di awal 2022 bagi dunia pendidikan kita. Belum hilang rasa pilu mendengar guru menyuruh siswanya makan sampah. Kini, muncul berita lagi yang membuat kita miris. Seorang oknum guru di Surabaya telah bertindak diluar nilai-nilai profesionalitas guru. Ia telah memukul siswanya. Bahkan, ia membenturkan kepala siswanya ke papan tulis. Masalahnya sepele, gara-gara siswanya tidak dapat menjawab pertanyaan sang guru.
Ada apa dengan perilaku guru saat ini. Sebagai sesama guru, tindakan kedua oknum guru ini telah mencoreng profesi guru. Namun, kita harus berpikir secara jernih menyikapi tindakan ini. Kita sadar bahwa profesi guru bukan profesi yang mudah. Profesi yang memerlukan ketulusan jiwa mengadapi tantangan teknologi dan sosial. Oleh karena itu, sebelum menjadi guru, calon guru sudah dibekali dengan empat kompertensi dasar agar kelak guru dapat menjawab tantangan ini.
Pertama, Kompetensi profesional. Kompetensi ini membekali seorang guru memiliki kemampuan dalam mengelola proses belajar mengajar. Kemampuan mengelola pembelajaran didukung oleh pengelolaan kelas, penguasaan materi belajar, strategi mengajar dan penggunaan media belajar.
Kedua, kompetensi pedagogik berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam memahami proses pembelajaran. Pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas bersifat dinamis. Ini dapat terjadi karena komunikasi atau interaksi timbal balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Keberagaman siswa di dalam kelas juga akan memerlukan keterampilan seorang guru dalam mendisain program pembelajaran.
Ketiga, Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai pendidik untuk berkomunikasi dan berinteraksi yang baik dengan warga sekolah maupun warga di mana guru berada. Kemampuan sosial ini dapat dilihat melalui pergaulan sosial guru dengan siswa, rekan sesama guru maupun dengan masyarakat di mana ia berada.
Keempat, kompetensi kepribadian artinya dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang guru harus menunjukkan sikap dan kepribadian yang baik. Guru yang patut ditiru merupakan filosofi yang menunjukkan kemampuan kepribadian. Ditiru karena guru diyakini mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup siswanya. Seorang guru ditiru karena pada diri guru terdapat sikap dan pribadi yang baik.
Empat kompetensi tersebut tentu hanyalah kompetensi dasar. Banyak faktor yang akan mempengaruhi guru saat berhadapan dengan siswa di kelas. Faktor yang sering muncul seperti; sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran; perbedaan satus sosial; perbedaan kemampuan memahami pelajaran; atau kondisi kejiwaan guru yang labil karena situasi di luar kelas. Kompetensi dasar yang dimiliki guru kadang tidak mampu mengatasi dengan tepat. Apalagi, seandainya faktor ini terakhir itu muncul bisa jadi guru tanpa sadar melakukan tindakan diluar nilai-nilai edukasif.
Bisa jadi tindakan yang dilakukan dua oknum guru itu dipengaruhi faktor terakhir. Namun, kita tidak membenarkan tindakan tersebut walaupun benar ada faktor itu. Sebisa mungkin guru harus mampu menahan emosi dan memisahkan persoalan di kelas dengan persoalan di luar kelas. Jangan sampai tindakan emosional menyeret guru ke ranah hukum. Guru harus selalu berhati-hati dalam bertindak. Apalagi, sekarang sangat mudah merekam tindakan guru. Ingat dengan kamera smartphone tindakan kita dapat menjadi bukti.
Bogor, 30 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
