Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Depan Pintu (Tagur 3)

Depan Pintu (Tagur 3)

Depan Pintu

Karto mempercepat langkah kakinya melewati ruang aula yang masih tertutup rapat. Ia tidak berani menoleh ke kiri. Ia terus melangkah menuju tangga sebelah kanan yang menuju ke ruang guru. Ia merasa lega di ujung ruang laboratorium tampak Pak Miran sedang menyelesaikan aktivitas mengepel. Tanggannya cekatan menggerakkan gagang pel. Karto menoleh ke belakang sebelum naik tangga. Belum tampak seorang pun yang datang.

Ia bergegas menuju ruang guru. Punggungnya sudah terasa pegal menahan beban tas gambloknya. Tas berisi laptop dan buku-buku pekerjaan siswa yang belum selesai dikoreksi kemarin terpaksa ia bawa pulang.

Kang Karto menatap ruangan sejenak sebelum meletakan tasnya. Ia salut dengan pekerjaan Pak Miran dan Mas Aan. Sepagi ini mereka telah merapikan dan membersihkan ruangan. Tak tampak tumpukan map dan buku tugas siswa di meja guru. Semua tertata rapi.

Karto melangkah ke arah tempat duduknya. Ia turunkan tasnya. Ia menarik napas lega. Beban berat yang ia rasakan selama 1 jam lebih kini tak ada. Rasa pegal di punggungnya terasa berkurang.

Ia menoleh ke jam dinding di sebelah kiri ruangan jarum jam di angka 05.59. Tumben belum ada yang datang. Padahal 30 menit lagi jam pertama dimulai. Biasanya Pak Lukmayana dan Bu Dian sudah lebih dulu di ruangan ini.

Karto keluar ruangan. Ia berdiri di pagar. Ia lihat Pak Lomin keluar ruang tata usaha. Diaa berjalan ke arah parkir motor. Punggungnya menggendong tas hitam. Mungkin dia akan ke Suku Dinas sepagi ini agar tidak terhambat kemacetan.

Karto masih berdiri di pagar depan ruang guru. Matanya mengamati siapa yang datang. Sepuluh menit ia berdiri di situ belum terlihat guru lain yang datang. Tiba-tiba ia melihat kelebat orang di belakangnya masuk ruangan. Ia segera menoleh ke arah pintu masuk. Tak ada tanda orang masuk. Tapi jelas kelebat orang sangat cepat di belakangnnya tadi. Ia perhatikan pintu tidak berubah. Pintu masih terbuka sedikit seperti tadi ia keluar.

“Aku yakin tadi ada orang lewat masuk, tapi kenapa tidak ada suara pintu dibuka,” pikir Karto. Padahal, pintu pasti berbunyi greek setiap dibuka karena bawah pintu bergesekan dengan lantai. Ia coba tarik pintunya, greek. Ia tutup kembali seperti tadi. Ia coba masuk lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Ia tak bisa masuk. Terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya.

“Tapi, siapa yang bisa masuk tanpa menggeser pintu. Seingatnya tidak ada orang lain yang lebih kecil tubuhnya dariku.”

Kaki Karto gemetaran. Keringatnya mulai mengalir. Ia ingin tahu siapa yang tadi berkelebat di belakang tubuhnya. Ia yakin betul ada orang di belakangnya ketika ia berdiri di pagar. Kakinya seakan tak mau bergerak, Ia tetap berdiri di pagar sambil menyandarkan tubuhnya.

Karto menengok lagi ke bawah. Belum terlihar orang lain selain Pak Miran yang masih mengepel depan ruang kepala sekolah. Ia panggil Pak Miran, tapi suaranya tak bisa keluar. Suaranya tertahan di kerongkongan. Karto berteriak keras sekali.

“Pak Miraaaaan!”

Tak ada reaksi Pak Miran. Ia tetap mengepel. Tanggannya menggerak-gerakan gagang pel dengan cekatan. Gerakan maju mundur gagang pel sangat harmonis seirama dengan tangan dan langkah kakinya. Karto pasrah.

Citeureup, 150122

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post