Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mendung Telah Pergi (5)

Mendung Telah Pergi (5)

Aku seperti berjalan dalam gelapnya malam. Tak ada pegangan. Tertatih-tatih mencari kepastian sampai ke ujung penantian. Berat rasanya beban yang kusimpan.

“Aku harus kuat menghadapi ini,” keluhku dalam setiap langkah.

Sembilan bulan sudah lewat. Kini di hari yang mendebarkan. Aku harus menunggu kehadiran anakku. Aku pasrahkan semua. Aku tak boleh kelihatan cemas di hadapan istriku yang sedang menahan sakit.

Inilah pertama kali aku harus mengubah perilaku selama 9 bulan. Aku beranikan mengelus perut buncit istriku. Rasa sakitnya menjalar ke seluruh jiwaku. Ego perasanku runtuh melihat rintihan istriku. Aku peluk dia.

“Sakit, Mas. Maafkan aku.” Keluh istriku. Wajahnya terlihat pucat. Peluh membasahi tubuhnya.

“Dek, kamu pasti kuat.” Tanganku mengusap keningnya yang sudah basah oleh peluh. Aku tak bisa berkata lain.

“Mas, jaga anak kita. Aku titip sama Mas.” Terdengar suara pilu istriku.

Aku biarkan istriku mengatakan sesuatu yang sangat menusuk kalbuku. Aku tak sanggup membalas ucapannya. Kulihat matanya makin redup. Bibirnya tampak merapat menahan sakit.

Aku usap perutnya berkali-kali. Aku biarkan tanganku yang lama tidak berani mengelus perut buncitnya kini tetap berada di atas perut bumcitnya. Getaran keras akibat kontraksi terasa menendang-nendang kalbuku.

Aku yang selama ini cuek, tak pernah peduli perkembangannya. Kini seakan mendengar anakku berkata, “ Kamu bukan ayah yang baik.”

Aku akui apa yang dia rasakan selama ini. Aku bukan ayah yang baik. Aku telah menelantarkan dia dalam 9 bulan lebih. Aku biarkan istri dan anakku merasakan kepedihan oleh sikapku.

“Maafkan ayah anakku. Kamu tidak tahu perasaan ayah selama ini. Aku takut anakku!” Suaraku menggetarkan ruang bersalin.

Kulihat istriku diam. Bibirnya tersenyum. Wajahnya memancarkan kebahagiaan.

“Terima kasih Mas, anak kita perempuan. Anak kita lahir dengan sempurna. Dia cantik.”

Aku seakan dibangunkan dari tidur panjang dalam lorong yang gelap. Lorong panjang yang menyimpan seribu bayang-bayang kelam. Di sudut-sudut lorong yang tampak hanyalah kengerian. Wajah tanpa hidung. Kepala bocah sebesar kelapa menyeringai. Matanya menyala. Bayi yang tanpa anus menggeliat saat akan buang hajat. Di atap dinding tampak bocah mungil bedempetan. Badannya menyatu meronta-ronta ingin berlarian mengejar harapan.

Di ujung lorong seorang bocah terbaring tanpa batok kepala. Otaknya tampak tersembul. Tangannya menggelepar-gelepar minta tolong. Dia merintih . Matanya memandangku penuh harap.

Aku tak sanggup menatapnya. Aku palingkan wajahku ke kanan. Ya ampun seorang bocah perempuan perutnya dilubangi untuk mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Sepasang selang menggelantung. Mulutnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku tak mendengar ucapannya. Sekali lagi aku tak sanggup menatapnya. Aku berlari menjauh. Tiba di pintu lorong terasa makin gelap. Aku tak tahu di mana sebenarnya pintu keluar lorong. Berkali-kali aku menabrak tembok ketidakpastian.

“Mas, kamu sudah lihat anak kita?”

Istriku tersenyum manis. Di sampingnya seorang bayi perempuan mungil ikut tersenyum menyambut ayahnya.

Di luar mendung sudah tak tampak lagi. Awan putih menghiasi langit tampak berkejaran.

***

Citeureup, 17012022

21.10

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post