Seberkas Cahaya Senja (7)
Seberkas Cahaya Senja
Karto menatap anak-anak yang tertawa ceria sepulang sekolah. Mereka bercanda menikmati keceriaan tanpa memikirkan melonjaknya Omicron. Tak terlihat ketakutan pada wajah-wajah mereka. Terlihat satu dua anak melepaskan masker. Mereka berjalan tanpa jaga jarak. Karto geleng-gelang kepala menyaksikan anak-anak dalam keceriaan.
Ia jadi ingat apa yang pernah dialaminya sebulan yang lalu. Keceriaan yang ia rasakan sirna dalam sekejap. Ia terbaring lemah di ruangan bernuansa hijau. Di tangannya terpasang jarum inpus. Kebebasannya sudah terbelenggu.
Karto mengusap keringat yang ada di jidatnya. Ia tak bisa membantah ketika Eyang Samadikun menyindirnya.
“Karto, Eyang ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini demi kebaikanmu”.
Karto tak berani menatap Eyang Dikun. Tak ada yang berani menatap Eyang saat dia berbicara apalagi menentangnya.
“Karto sudah lama Eyang ingin bicara bersua denga kamu,” suara khas Eyang Dikun seakan bergema di ruang rawat Karto.
Eyang Dikun berhenti. Ditatapnya Karto cucu pertamanya yang sejak kecil selalu digadang-gadang. Karto diam. Pandangannya dia arahkan ke pergelangan tangan kanannya yang terpasang jarum inpus.
“Eyang rasa kamu harus menyadari atas sikapmu selama ini.”
“Apa yang dapat kamu banggakan dan sombongkan. Harta, jabatan, pangkat atau badan yang kuat dan tinggi besar. Mungkin kamu kira semua itu dapat mengatasi segalanya. Tidak Karto!” Eyang Dikun berhenti sambil jari tangannya mengusap mulutnya.
“Ternyata yang kamu banggakan sebenarnýa tak ada apa-apanya. Coba kamu renung sejenak. Tak usah sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Cukup dalam beberapa hari saja. Mungkin kamu akan malu. Selama ini yang kamu agung-agungkan ternyata tak mampu menolak kuasa lain. Kamu menjadi orang yang paling lemah. Untuk mengurus dirimu saja tak akan mampu, apalagi orang lain”. Suara Eyang agak bergeter.
“Tak ada kekuasaan yang melekat di pundakmu. Kamu tak akan selamanya meniati harta yang melimpah. Semua tak berarti. Mungkin selama ini kamu selalu merendahkan orang lain. Namun, kamu sekejap akan kehilangan ini”. Ditatapnya Karto dengan begitu tajam
Karto makin gelisah. Eyang Dikun lalu meneruskan ucapannya.
“Kamu hari ini sudah merasakan makna hidup sebenarnya. Apa yang kamu lakukan selama ini ternyata tak ada apa-apanya. Dihadapan nyamuk aedes aegepty kamu tak berdaya. Itu artinya kamu tak kuasa apa-apa. Kamu ambruk. Masih ingin bersikap sombong?”
Setelah mengatakan itu Eyang Dikun batuk-batuk kecil. Usianya yang sudah cukup tua masih berusaha mengingatlan Karto cucu kesayangannya. Tangannya yang tampak keriput memijit-mijit kaki Karto. Angannya menerawang ketika dulu suka menggendong Karto saat pulang dari kantor.
Citeureup, 19 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
