Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Teh Tubruk (11)

Teh Tubruk (11)

Teh Tubruk

Pulang dari kantor Kang Karto wajahnya ditekuk. Wajah sumringahnya tak tampak. Murfiah sebagai istri yang tahu luar dalam karakter Kang Karto segera duduk di sampingnya. Ia menggelendot mesra agar kemarahan Kang Karto sirna. Ini sudah sering dilakukan Murfiah bila Kang Karto sedang marah atau ada masalah di kantornya.

"Kang, ada masalah ya di kantor?" Tanya Murfiah hati-hati.

"Apa di jalan tol tadi macet."

Kang Karto memang sering jengkel kalau mengalami kemacetan di tol. Ia sering ngomel. Protes tapi ngga tahu kepada siapa. Yang jelas pulang dari kantor sering dia ngomel-ngomel gara-gara macet di tol.

Suatu hari dia ngomel tak karuan.

"Ngapain bayar tol kalau masih macet. Bukankah tol artinya bebas hambatan. Ini malah biang kemacetan," protesnya.

Murfiah cuma tersenyum kalau sudah Kang Karto uring-uringan begini. Ia tak pernah menanggapai keluhannya. Ia paham betul kalau ditanggapi, apalagi berbeda tanggapan dengannya pasti Kang Karto tambah meledak emosinya. Jadi, cuma senyuman yang Murfiah berikan sebagai tanda menerima protes Kang Karto.

Nah, sekarang apalagi yang membuat Kang Karto terlihat suntuk. Wajah ditekuk. Tak terlihat gairah. Tapi, ngga meledak seperti biasa tol macet. Ada apa ini.

Sekali lagi Murfiah mengelus pipu Kang Karto dengan lembut. Ada rasa hangat di pipinya. Ini pasti masalah besar yang sedang Kang Karto alami.

"Kang..., Kang Karto minum teh tubruk dulu yuk. Sudah aku buatkan seperti kesukaan Kang Karto, loh," bujuk Murfiah.

Ia lihat sekilas wajah Kang Karto. Ada sedikit perubahan raut wajahnya.

"Ayolah Kang, keburu dingin nanti ngga segar. Kang Karto kan suka teh tubruk. Kata Kang Karto, kalau minum teh tubruk hangat rasa capai bisa hilang," rayu Murfiah sambil menarik manja tangan Kang Karto.

Kang Karto tersenyum dengan kemanjaan Murfiah.

"Ah, istriku, kamu memang pintar membujuk suamimu," ucap lirih Kang Karto.

Ia segera bangkit menuju meja makan dan meminum teh tubruk hangat. Rasanya urat-urat ketegangan lenyap seiring manis sepetnya teh poci produksi Slawi, Tegal.

Kang Karto seruput lagi teh tubruknya. Ada kehangatan menjalari syaraf otaknya. Ia mulai melupakan kemarahannya.

"Kang.., solat dulu yuk," ajak Murfiah.

"Kang Karto jadi imam yah, aku suka mendengarkan bacaan alfatehah dan surat-surat pendeknya. Aku jadi khusuk kalau jadi makmum Kang Karto," goda Murfiah.

Tanpa disuruh dua kali kang Karto langsung mengambil air wudu. Selesai wudu hati terasa tenang. Tak ada kegelisahan. Hilang perasaan yang mengganjal di hatinya. Ia menengadahkan kedua tangannya sambil berdoa.

Asy-hadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rosuluh, allohummaj'alnii minattawwaabiina waj'alnii minal mutathohhiriin.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci.

Selesai salat, pikiran Kang Karto mulai jernih. Persoalan di kantor tadi siang yang membuat hatinya panas berangsur sirna. Ia tidak ingin mengingat sikap sinis Zaskia.

Kang Karto langsung mendekati Murfiah. Direngkuhnya tubuh sintal Murfiah. Ada kehangatan menjalari tubuhnya. Ia cubit hidung mancung Murfiah. Ia gendong Murfiah.

Bogor, 23012022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post