Akhmad Ubedi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Aku Kangen Kamu, Brown (Tagur 7)

Aku Kangen Kamu, Brown (Tagur 7)

Aku Kangen Kamu, Brown (Tagur 7)

Seperti biasa setiap aku bangun Brown sudah menunggu di tangga. Dia tampak gembira mendengar hendel pintu kamar dibuka. Klik, pasti gerakan lincah menyambutku. Aku langsung mengelus bulu halusnya. Kutimang sebentar, lalu kuletakan lagi di lantai. Ekornya langsung dikibas-kibaskan. Mata polosnya menatap penuh harap. Aku tahu dia ingin aku siapkan makanan kesukaannya.

“Tunggu ya,” kataku sambil mencolek pipinya yang gembel. Dia langsung mengusap-usapkan kepalanya di tanganku.

“Iya, sabar. Aku ambil piring dulu. Kamu di sini saja.”

Brown sudah tak tahan untuk cepat sarapan. Memang kebiasaanku setiap pagi aku selalu memberi makan. Sebelum aku ke kantor, Brown, Polar, Leci, dan Telon aku siapkan makan. Mereka makan dengan lapah. Bunyi ketak-kletuk dari makanan yang mereka kunyah terdengar merdu.

Pagi ini, ketika handel pintu kamar kubuka, Brown langsung menempel di kakiku. Kepalanya seperti biasa diusap-usapkan. Suaranya meong-meong tak henti. Ia tak mau lepas dari sisiku. Kugendong. Kuelus-elus bulu halusnya. Ia marih merengek. Ia menjadi manja tak seperti biasanya.

“Brown, tumben kamu manja begini,” pikirku.

“Kamu sudah lapar ya. Yuk makan.”

Meong-meong. “Kenapa Brown. Ada apa?”

Aku tak mengerti apa yang ingin diungkapkannya. Aku tidak tahu keinginan dia. Aku tak menghiraukan kemanjaan Brown.

Setelah kusiapkan makan dia, aku siap-siap berangkat. Aku tinggalkan Brown yang terlihat lebih malas dari biasanya. Brown menyendiri di bawah meja tamu. Kulihat matanya menatap ke mana langkah kakiku.

“Brown, baik-baik di rumah ya.” Meong, meong, meong.

Biasanya aku sampai rumah lewat pukul 16.00. Hari ini aku pulang lebih cepat. Aku katakan ke pimpinan ada keperluan. Entah apa yang membuat kau berbohong. Aku ingin cepat-cepat ke rumah. Perasaanku tak nyaman. Terpaksa aku harus membohongi diriku.

Aku panggil Brown.

“Brown, Brown kamu di mana. Yang datang Leci, Telon, dan Polar. Mereka mengerubuti kakiku. Ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan. Leci menempel terus di kaki kanan, Polar di kaki kiri. Sementara Telon terus-menerus mengeluarkan bunyi meong-meong.

“Di mana Brown, kok tidak kelihatan. Kalian tahu di mana dia?” Serentak mereka mengeluarkan bunyi meong, meong, meong. Leci melangkah ke depan mobil yang dari pagi aku parkir di depan. Dia berhenti di depan mobil sambil memanggil aku. Meong, meong, meong.

Aku segera menuju Leci diikuti Telon dan Polar. Leci berputar-putar seperti bingung. Perasaanku makin tidak enak. Ada sesuatu yang ingin leci sampaikan kepadaku.

“Masyaallah!” Teriakku begitu melihat Brown terkapar tepat di depan mobil sebelah kanan. Kuangkat Brown. Dia masih bernapas. Mulutnya terkunci rapat. Matanya terpejam, tapi perutnya masih bergerak-gerak. Dia belum mati.

“Brown, kamu kenapa. Siapa yang menabrak kamu?” Aku panik melihat kondisi Brown yang sekarat. Aku baringkan dia di atas kardus. Aku usap-usap kepalanya sambil berharap Brown bangkit. Tidak lama kaki Brown mengejang dan diam.

“Brown!” Aku tutup badan Brwon dengan kain. Kubungkus dia. Anak-anakku menangis menyaksikan Brown diam kaku.

Bogor, 3 Februari 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post