Dialog di Bawah Pohon Pisang (Tagur 15)
Dialog di Bawah Pohon Pisang
(Tagur 15)
Oleh Ubedi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika tadi malam melapaorkan bahwa pagi hingga sore ini Kampung Rambutan akan diguyur hujan ringan sampai sedang. Prakiraan yang disampaikan BMKG membuat Kang Karta agak bersungut. Masalahnya siang ini dia akan merapikan tanah di pojok belakang rumahnya. Dia akan membuang semua tanaman termasuk pohon pisang.
Sejak pagi langit tampak mendung. Cuaca tidak terik seperti tiga hari lalu. Kang Karta sudah menyuruh Kang Suko untuk membabat tanaman termasuk rimbunan pohon pisangnya. Ia menunggu di teras ditemani secangkir kopi hitam dengan gula sedikit. Ia seruput sedikit-sedikit kopinya. Ia berharap Kang Suko cepat sampai. Mumpung hujan belum turun.
Kemarin Kang Suko telah menyanggupi untuk membabat semua tanaman termasuk rerimbunan pohon pisang. Ia orang yang sudah biasa menembang pohon. Jangankan rerimbunan pohon pisang, pohon randu alas yang ukuran batangnya dua pelukan orang dewasa saja pernah dia tebang seorang diri. Kang Karta percaya Kang Suko bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Kang Karta melongok lewat atas pagar rumahnya. Belum ada tanda Kang Suko datang. Ia kembali ke teras. Ia pegang cangkir kopinya. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Ia angkat teleponnya.
“Iya Kang Suko, posisi di mana?”
“Kang Karta pesananku sudah disiapkan.”
“Sudah Kang”.
“Jangan lupa kembang kantilnya jangan terlalu banyak. Cukup sejumput saja. Kang Karta pastikan mawar merah dan melati diaduk dalam baskom. Beri air putih segelas.”
Kang Karta segera menyiapkan apa yang diperintahkan Kang Suko. Ia mengambil baskom dan semua persyaratan untuk yang diminta Kang Suko. Sebentar lagi Kang Suko sampai.
Ia taruh baskom di bawah rerimbunan pohon pisang. Di sampingnya golok yang sudah dikalungi melati.
Ia kembali ke teras menunggu Kang Suko.
“Kang posisi di mana?”
“Ini sudah di depan gerbang.”
Kang Karto berlari-lari membuka gerbang. Ia langsung ajak Kang Suko ke belakang rumahnya. Di pojok kanan tampak rimbunan tanaman dan pohon pisang.
Kang Suko diam berjalan di samping Kang Karta. Matanya menyapu sekitar rimbunan tanaman san pohon pisang.
“Kang Karta berhenti!” Suara Kang Suko membuat Kang Karta sangat terkejut. Ia menghentikan langkahnya. Kang Suko menarik lengan Kang Karta. Ia menyuruh Kang Karta di sampingnya.
Kang Karta seketika gemetar. Wajahnya tampak pucat.
“Kang Suko aa. ...ada apa?” Suaranya menahan rasa takut.
“Kang Karta apa yang sudah kamu lakukan tadi?”
“Aku menaruh baskom sesuai petunjuk Kang Suko. Aku juga menaruh golok di samping kanannya. Aku kalungkan melati di goloknya.” Kang Karta makin pucat.
“Ayo jalan, kita lihat baskom yang lamu letakan di bawah pohon pisang. Kang Karto jangan jauh-jauh dari saya,” perintahnya.
Mereka duduk menghadapi baskom berisi kembang yang dicampur air putih. Tampak airnya berputar semakin cepat. Kang Suko segera meletakkan kedua tangannya di atas air yang berputar. Ia pejamkan matanya. Tubuhnya bergetar kencang. Sebentar oleng ke kiri, sebentar ke kanan.
“Ya, aku akan membersihkan tempat ini,” kata-kata itu keluar dari mulut Kang Suko.
“Kenapa tidak bisa. Kamu harus tinggalkan tempat ini!” Mata Kang Suko masih terpejam hanya suara yangvkeluar sari mulitnya.
“Aku minta baik-baik. Kamu tidak boleh menghalanginya”.
“Hreeeeèer. Heeeeèm. Haaaaaah.
Buang-buang di atas kembang melati
Mari-mari tinggalkan ini.
Pergi-pergi tak usah lari.
Di tempat lain kamu aku huni.”
Kang Karta mendengar semua yang dikatakan Kang Suko. Ia duduk menyilakan kakinya semakin kuat. Ada kengerian menjalari relung hatinya. Ia takut penunggu pohon pisang marah kepadanya. Ia makin merapatkan kedua kakinya. Di atas daun-daun pisang bergerak-gerak semakin kencang. Suaranya makin menakutkan. Angin yang membawa udara dingin makin menciutkan keberanian Kang Karta.
Kp. Rambutan, 11 Februari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
