KAMIS WAGE (TAGUR 22)
Kamis Wage
Oleh : UBD
Karto lahir Kamis wage. Kata ibunya dia lahir saat situasi di kampungnya sedang paceklik. Masyarakat di desa hampir semua hidup prihatin. Kemarau panjang telah mengubah tatanan masyarakat Desa Pagedangan.
Siang itu, matahari seakan membakar desa. Tak ada warga yang mau berlama-lama di luar rumah. Nyaris siang itu desa yang sebagian besar penduduknya sebagai petani tak mampu menyembunyikan kepiluannya.
Tak ada yang dapat dikerjakan selain menunggu datangnya musim penghujan. Banyak penduduk yang terpaksa meninggalkan desa, terutama kaum lelaki. Mereka mencoba keberuntungan ke kota-kota besar. Mereka meninggalkan anak istri demi sebuah harapan. Separoh lebih laki-laki desa pergi. Tinggal laki-laki sepuh dan anak-anak yang terpaksa tetap di desa.
Termasuk ayah Kang Karto harus rela meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua. Dengan berbekal keterpaksaan ayahnya merantau.
"Lastiah, aku pamit. Aku akan kembali demi anak kita."
Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Ia hanya memandang kepergian suaminya. Ia mencoba menahan gejolak air mata yang menghentak-hentak ingin keluar. Ia genggam erat tangan kekar suaminya.
Dua bulan sudah kepergian suaminya. Perùt Lastiah semakin membesar. Tanda-tanda kelahiran sudah makin jelas. Rasa sakit di bawah panggul sudah sering ia rasakan. Kadang-kadang terasa kontraksi tapi sebentar hilang lagi.
Lastiah memandang ke arah pelataran yang sepi. Tatapannya penuh harap. Ia ingin sekali Kardirejo ada di sisinya saat ini. Ia elus perut buncitnya.
"Nak, sabar ya? Bapakmu lagi mencari uang buat kita. Buat kelahiran kamu. Nanti kalau bapak sudah pulang, pasti dia akan menemani kehadiranmu."
Entah apa yang dirasakan jabang bayi dalam perut Lastiah. Ia seakan ingin sekali menemui bapaknya. Ia memberontak ingin cepat keluar. Lastiah menahan kontraksi yang tiba-tiba ia rasakan. Ia merintih, menahan rasa sakit tak terkira.
Ia menjerit. Tak ada yang mendengar. Ia memanggil-manggil tetangganya. Tak ada yang datang. Rasanya ia tak kuat untuk menahan bayinya keluar. Ia baringkan tubuhnya di amben ruang tengah. Ia masih merintih memanggil nama suaminya.
"Kang Kardirejo, aku tak kuat lagi."
"Kang Kar...teriakan Lastiah diiringi tangisan bayi mungil. Tangisannya sangat kuat. Meraung-raung. Menggema sampai ke atas cungkup Mbah Sumomenggolo.
Warga desa yang ada di makam Mbah Sumo kaget. Mereka mendengar tangisan bayi melengking di tengah terik matahari. Warga yang sedang membersihkan cungkup Mba Sumo bergegas mencari arah suara bayi. Mereka mengira ini pertanda baik atas paceklik yang melanda desanya.
Ucapan rasa syukur keluar dari mulut orang-orang yang masih bekumpul di cungkup makam Mbah Sumo.
Lastiah berkata lirih, anak bagus. Ibu bahagia. Kamu lahir di tengah masa paceklik. Sementara orang-orang sedang berada di cungkup makam Mbah Sumo kamu lahir, Nak. Kamu lahir tepat Kamis Wage.
"Nak, kamu akan menjadi orang yang suka menolong. Bantulah mereka yang mengalami kesulitan," ucap Lastiah di telinga anak pertamanya, Karto.
Kota Hujan, 18 Februari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
