Potongan Pohon Cemara (Tagur 13)
Potongan Pohon Cemara (Tagur 13)
Oleh Ubedi
Siang itu Kang Karta duduk di saung belakang kantor. Bajunya tampak basah. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Ia menyelonjorkan kakinya. Ia terlihat sangat lelah. Tampak dari raut muka yang mulai keriput ada kelelahan yang ia rasakan.
Kang Karta bergeser ke kanan. Ia sandarkan punggungnya di pagar saung. Ia usap peluh yang menetes di keningnya. Ia menengok ke arah orang-orang yang masih dengan semangat menata tanaman hias. Ia melihat temannya yang mendorong gerobak sarat puing dan kayu.
Sebenarnya ia masih ingin membantu mereka. Mengangkat batang kayu yang masih teronggok di belakang ruang OSIS. Ia ingin mengayunkan golok membabat batang pohon pisang. Ia ingin memindahkan meja dan kursi yang teronggok di sudut ruangan. Namun, tenaganya tak sanggup untuk melakukan pekerjaan berat itu.
Dalam hati Kang Karta berkata berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Pekerjaan yang berat apabila dikerjakan bersama akan terasa ringan, pikirnya. Apa daya tenaga tuanya tidak mampu untuk melakukan itu. Ia hanya duduk bersandar. Ia atur napas untuk mengurangi rasa lelahnya.
Ia tak tega melihat teman-temannya mengangkat beban berat. Ia turun dari saung. Ia berjalan menghampiri rekan-rekannya. Ia tidak pedulikan napasnya yang masih menahan kelelahan. Wajahnya yang tampak pucat. Ia akan membantu lagi merapikan kayu-kayu yang masih teronggok di sudut belakang taman.
“Kang Karta, istirahat saja.”
“Biarkan kami yang merapikan semua,” kata Pak Miran.
“Wis Kang, sementara biarkan kami menyelesaikan ini. Kita masih punya waktu dua minggu,” begitu kata Pak Suko.
Kang Karto tidak tega membiarkan teman-temannya membanting tulang. Sementara dia hanya menyaksikan dari atas saung.
“Tidak, aku harus membantu mereka,” kata Kang Karto dalam hati.
Ia menghampiri Mas Bani dan Mas Aan yang sedang mengangkat potongan kayu cemara cukup besar. Tangannya langsung ikut mengangkat bagian tengah. Potongan pohon cemara diangkat bertiga. Mereka naikan ke atas gerobak. Potongan cemara diletakkan hati-hati di gerobak agar tidak terguling.
Kang Karto masih memegangi potongan pohon cemara. Kedua tangannya memegangi di bagian tengah. Keringat mengalir lewat pori-pori tubuhnya. Kembali bajunya basah. Wajahnya pucat. Pegangan tangannya mulai melemah. Kakinya gemetaran.
Kang Karto jatuh. Ia telentang dengan wajah sangat pucat. Mas Bani dan Aan yang masih memegang dengan cepat melepaskan potongan kayu. Dia tidak menyadari potongan kayu di atas gerobak belum sempurna posisinya. Potongaan pohon cemara mengelinding jatuh menimpa Kang Karta.
“Tolong, Kang Karta ketiban kayu,” teriak Mas Aan dan Bani bersamaaan.
Semua berlari menghampiri Kang Karta yang tertindih potongan pohon cemara. Tampak darah mengalir dari celah mulut, hidung dan kepala bagian bawah. Benturan keras dengan lantai semen membuat darah mengucur dari kepalanya . Ia tak bergerak.
Citeureup, 9 Februari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
